Besok Imlek Nih. Yuk Belajar Mengatur Keuangan dari Orang Tionghoa

Orang-orang Tionghoa terkenal gigih dan disiplin dalam soal keuangan. Mereka gak main-main soal urusan yang satu ini.

Belajar mengatur keuangan
Banyak yang bisa kamu pelajari dari tradisi orang Tionghoa. Banyak di antara mereka yang sukses-sukses lho (Jack Ma/Tech In Asia)

Yang tampaknya tiap hari cuma pakai kaus oblong dan celana pendek, ternyata punya usaha beromzet ratusan juta tiap bulan. Bisa buat koleksi rumah itu duit.

Karakter dan sikap dalam mengatur keuangan itu tidak bisa lepas dari tradisi orang Tionghoa sendiri. Setiap kelompok etnis memang punya karakter tersendiri.

Etnis Jawa, misalnya, kebanyakan dianggap sering malu-malu kucing alias pekewuh. Sebenarnya mau, tapi malu. Kemudian orang Batak terkenal keras dan blakblakan.

Perbedaan karakter itu semestinya tidak membuat masyarakat terpecah. Tapi justru harus mempelajari tradisi masing-masing agar bisa mengambil manfaat dari hal di luar lingkungannya itu.

Seperti tradisi orang Tionghoa dalam hal keuangan berikut ini. Mungkin kita bisa mencuplik dari situ untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

1. Penuh perhitungan

Orang Tionghoa sering dinilai gak mudah percaya orang lain. Itu bukan karena mereka paranoid, melainkan mereka memang berhati-hati agar tidak salah langkah.

Belajar mengatur keuangan
Penuh perhitungan dalam apapun biar gak kepleset, upss (Presiden Robert Mugabe kepleset/ITV)

Kepercayaan dari orang Tionghoa mahal harganya. Ibaratnya, mereka gak akan begitu saja menyerahkan kunci gerbang perusahaannya ke orang lain, meski orang itu menjabat manajer.

Begitu juga dalam mengatur keuangan. Mereka akan sangat berhati-hati memperhitungkan, terutama pengeluaran. Yang kira-kira gak perlu, bakal dibabat.

Pengeluaran ditekan seminim mungkin, sementara usaha meraih penghasilan digenjot. Kedisiplinan seperti ini kadang memerlukan pengorbanan, misalnya harus menahan keinginan belanja atau menggunakan sesuatu yang masih bisa digunakan meski ketinggalan zaman. Semuanya demi menghemat pengeluaran.

2. Disiplin Menabung

Masyarakat Tionghoa diajari menabung sedari kecil. Awalnya, celengan dari keramik atau porselen yang jadi sarana menyisihkan uang. Kemudian, rekening bank.

Tradisi membuat barang keramik ada di Negeri Tiongkok. Salah satunya untuk membuat celengan babi. Bahkan celengan dari zaman Majapahit berbentuk babi hutan—celeng dalam bahasa Jawa—diperkirakan dibuat untuk menabung uang kepeng alias koin dari Cina.

Tradisi menabung ini penting untuk mewujudkan target masa depan. Uang tabungan bisa dipakai buat modal usaha, misalnya. Kalau tidak nabung, dari mana uang modal usaha?

3. Sederhana

Orang-orang Tionghoa cenderung berpenampilan biasa saja meski kekayaannya bertumpuk. Itu karena mereka mementingkan isi ketimbang kulit.

Belajar mengatur keuangan
Gaya sederhana aja gak usah keren-keren, yang penting kalo traveling bisa menjelajahi Eropa (rombongan tur dari RRC/Sapore de China)

Uang yang didapat dari kerja lebih banyak dialokasikan buat pengembangan usaha ketimbang keperluan konsumtif. Apalagi utang untuk bergaya.

Mending utang dipakai buat memutar roda usaha biar makin kencang. Jika bela-belain beli barang dengan cara gesek sana-gesek sini tanpa mikir gimana bayarnya, itu sama saja dengan bunuh diri.

4 Gigih dalam sikap

Kegigihan masyarakat Tionghoa antara lain terlihat ketika mereka menawar untuk membeli sesuatu. Formula yang mereka anut sederhana saja: tawar sampai dapat harga termurah!

Sekilas memang semua orang bisa melakukannya. Tapi mereka seperti punya trik tersendiri dalam mempertahankan tawarannya.

Hal itu tentu bukan tanpa alasan. Mereka gigih menyodorkan angka tawaran itu karena sudah berhitung sebelumnya. Misalnya di tempat lain harganya sekian. Terus barang yang serupa dengan spesifikasi lebih tinggi harganya sekian.

Dari pertimbangan itu didapatkanlah suatu angka yang dianggap pas. Ketika penjual gak setuju, mereka oke saja gak jadi beli. Hal yang sama berlaku ketika mereka berposisi sebagai penjual. “Cek toko sebelah aja,” begitu katanya.

5. Konsisten

Rencana tanpa konsistensi itu omong kosong belaka. Contohnya rajin nabung setahun, terus sering hura-hura belanja tahun-tahun berikutnya.

Atau rela makan sehari sekali demi menghemat pengeluaran, lalu beli gadget terbaru hasil ngutang. Rencana keuangan gak bakal berjalan baik jika gak diikuti dengan tindakan nyata yang selaras.

Ini yang sebetulnya paling sulit dilakukan. Terutama jika gak punya tekad yang kuat.

Banyak hal soal keuangan yang bisa dipelajari dari tradisi orang Tionghoa di Indonesia. Namun pelajaran saja tidak berguna tanpa perbuatan. Jangan hanya memuja-muji warga Tionghoa bisa sukses.

Semua orang pada dasarnya bisa sukses. Yang penting, ada usaha untuk menggapai kesuksesan itu. Bukan omdo alias omong doang. Imlek 2017 ini bisa kita jadikan batu pijakan untuk memulai strategi baru rencana keuangan ala orang Tionghoa.

[Baca: Simak Deh Rahasia Cara Mengatur Keuangan Keluarga bagi yang Susah Disiplin]

[Baca: Jangan Ragu Berwirausaha Karena Penting Buat Menambah Pemasukan]

[Baca: Curhat Duit: Gara-gara Gak Bijak Mengelola Pinjaman Jadi Terperosok ke Jurang Utang. Gimana Solusinya?]