Beli Rumah yang Belum Jadi Boleh Aja, tapi Kenali Dulu Risiko dan Kekurangannya

Beli rumah yang belum jadi alias inden kerap dipilih orang yang ingin rumah baru dengan desain sendiri. Harapannya, mereka bisa masukkan konsep dan interior ini-itu untuk hunian saat rumah dibangun.

Hal ini tentunya gak bisa dilakukan bila beli rumah yang sudah jadi meskipun statusnya bangunan baru. Apalagi beli rumah bekas.

Beli rumah yang belum jadi memang cucok banget buat yang punya visi khusus untuk huniannya kelak. Terlebih rumah inden umumnya lebih murah ketimbang rumah yang sudah jadi, sehingga banyak diburu untuk investasi.

Dana pun bisa dialokasikan ke hal lain. Beli furnitur, misalnya. Namun, di balik kelebihan beli rumah inden itu, terdapat risiko dan kekurangan yang mesti dipahami.

1. Gak bisa langsung ditinggali

Rumah belum jadi. Jelas gak bisa langsung ditinggali. Makanya, buat mereka yang ingin segera punya hunian sendiri, opsi ini gak tepat.

beli rumah yang belum jadi
Tinggal di tenda asyik juga ya sepertinya (Di Dalam Tenda / rimanews)

Harus tunggu beberapa bulan untuk memproses pembangunan hingga jadi. Bahkan proses bisa lebih lama jika developer nakal alias gak bekerja sesuai dengan kesepakatan.

2. Fitur rumah gak sesuai dengan di brosur

Risiko ini rentan menimpa mereka yang ogah mengecek proses pembangunan rumah, apalagi mengusulkan desain. Bisa saja fitur rumah ternyata gak sesuai dengan brosur.

Misal, harusnya pakai batu bata merah tapi nyatanya malah pakai batako. Atau genting harusnya berkualitas A tapi malah dikasih KW.

3. Rumah mangkrak atau gak jadi

Di tengah pembangunan, mungkin developer mengalami musibah sehingga gak bisa lanjut. Atau developer sengaja kabur setelah membawa uang konsumen.

Sudah rumah gak jadi, uang lenyap. Bila masalah sudah masuk jalur hukum, siap-siap waktu, tenaga, dan biaya tersedot untuk mengurusinya.

4. Lingkungan sepi

Saat rumah sudah jadi, kemungkinan besar lingkungannya masih sepi. Sebab, rumah dibangun di kawasan permukiman baru. Mungkin juga masih banyak rumah lain yang belum selesai dibangun. Jadi siap-siap aja jadi penghuni satu-satunya di komplek perumahan baru.

rumah yang belum jadi
Duh kalau sepi kok jadi berasa di film-film horor ya hehehe (Lingkungan Sepi / malangvoice)

Melihat sederet risiko dan kekurangan di atas, gak bisa sembarangan beli rumah yang belum jadi. Kita selaku konsumen harus cerdas juga melakukan antisipasi.

Bila berniat beli rumah inden, lakukan tips berikut ini agar terhindar dari risiko yang mungkin muncul:

1. Pastikan reputasi pengembang

Cari developer yang punya rekam jejak bagus, terutama dalam hal pembangunan rumah inden. Jika pakai kredit pemilikan rumah (KPR), mereka harus mematuhi Peraturan Bank Indonesia No. 18/16/PBI/2016 tentang penjualan properti inden—saat ini peraturan itu yang berlaku, bisa saja ada perubahan kelak.

2. Minta Perjanjian Pra-Jual Beli (PPJB)

PPJB bisa diminta ke developer sebelum penandatanganan akta jual beli (AJB). Perjanjian ini gak memerlukan notaris. Tapi bisa juga pakai notaris agar lebih aman, asal siap dengan biaya jasanya.

Sebenarnya pakai materai saja sudah cukup. Tinggal ditambah dengan dokumen bukti-bukti pembayaran, seperti down payment, untuk memperkuat posisi kita di mata hukum.

3. Rajin kontrol ke lokasi

Jangan pernah bosan datang ke lokasi rumah untuk mengecek progres pembangunan. Cocokkan progres itu dengan janji yang dibuat developer.

Misalnya pada minggu kedua semua pintu sudah terpasang, tapi ternyata belum. Tanyakan segera ke mereka dan desak untuk bekerja sesuai dengan perjanjian.

rumah yang belum jadi
Kalau rumah bolong gini nanti kehujanan dan kepanasan dong ya! (Rumah Belum Jadi / tokodaeng)

Secara umum, beli rumah inden boleh-boleh saja. Bahkan kita bisa untung beli rumah yang belum jadi itu.

Beli rumah inden bisa dengan cash maupun KPR. Namun kebanyakan membelinya dengan fasilitas KPR karena memperhitungkan kondisi finansial.

Selain itu, pihak developer biasanya sudah punya program kerja sama dengan bank tertentu untuk fasilitas KPR tersebut. Tinggal kitanya yang memeriksa apakah KPR yang ditawarkan pas dengan kebutuhan, terutama soal bunganya.

Kalau gak cocok, riset saja sendiri di Internet soal KPR mana yang paling ringan. Bandingkan berbagai macam produk KPR yang ada dan pastikan untuk memilih yang paling sesuai dengan kantong.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Mau Investasi Properti Murah? Begini Caranya]

[Baca: Jangan Takut Sama Pengembang Nakal, Hadapi dengan Cara Mengurus SHM Ini]

[Baca: Jangan Bingung Dulu, Ini Dia Tahap Pengajuan KPR Untuk Rumah Inden]