Begitu Si Kecil Lahir, Ini Hal-Hal yang Perlu Kamu Lakukan

Setelah 9 bulan dalam penantian, akhirnya sang buah hati terlahir ke dunia. Kini saatnya menimba pengalaman sebagai orangtua.

Periode ini menantang sekaligus menimbulkan kekhawatiran. Dulu, saat hamil, urusan persiapan kelahiran bisa dibilang gampang dipersiapkan.

Sudah ada daftar barang-barang yang diperlukan. Biaya persalinan pun sudah matang dalam perencanaan. Namun masih banyak yang bingung apa yang harus dilakukan ketika si kecil lahir.

Wajar saja kalau masih belum ada gambaran sebagai orangtua baru. Itu sebabnya kita mesti mencari tahu apa yang harus dilakukan ketika si kecil lahir. Terlebih, hal itu menyangkut keuangan rumah tangga.

Poin-poin berikut ini bisa dijadikan pertimbangan sebagai prioritas pemenuhan kebutuhan sang buah hati.

1. Bujet kebutuhan anak

Si Kecil Lahir
Menjelang kelahiran, siap-siap belanja perlengkapan ini dulu ya (perlengkapan bayi/Hai Bunda)

Dengan bertambahnya anggota keluarga, tambah pula pengeluaran sebulan. Ada pengeluaran baru yang harus disiapkan, antara lain:

– Susu
– Popok
– Perlengkapan mandi (sampo, sabun, sikat gigi, odol)
– Perlengkapan setelah mandi (minyak telon, bedak, sisir)
– Mainan
– Biskuit
– Bubur bayi

Poin di atas disesuaikan dengan usia bayi. Biskuit, susu, dan bubur, misalnya, disarankan baru diberikan ketika bayi sudah berusia 6 bulan ke atas.

Sebelumnya, air susu ibu (ASI) adalah yang utama. Begitu pula sikat gigi dan odol. Gak mungkin dong bayi belum keluar gigi diberi sikat dan odol.

Satu poin penting lainnya adalah asisten rumah tangga (ART). Kira-kira dibutuhkan atau tidak. Jika butuh, siapkan bujet gaji sebulan.

Cari ART yang tepercaya, misalnya dengan bantuan referensi keluarga atau kenalan. Bisa juga via agen. Pertimbangkan pula perlu-tidaknya memasang CCTV di area dalam rumah untuk memantau buah hati ketika ditinggal kerja.

2. Dana pendidikan anak

Gak ada orangtua yang mau anaknya tak terdidik. Makanya, dana pendidikan perlu disiapkan. Sedikitnya ada dua pilihan sumber dana pendidikan: tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan.

Tabungan pendidikan adalah layanan perbankan berupa tabungan dengan tujuan membiayai pendidikan. Ada kontrak periode tabungan, di mana selama kontrak itu dana gak boleh diambil.

Jika terpaksa mengambil, umumnya akan dikenai penalti. Begitu juga dengan asuransi pendidikan. Namun asuransi dalam layanan ini biasanya berupa unit link.

Artinya, ada gabungan asuransi dan investasi dalam asuransi pendidikan. Dengan demikian, dana premi yang terkumpul bisa berkembang, bisa pula menurun sejalan dengan hasil investasi.

Sedangkan hasil tabungan sudah bisa diprediksi melalui perhitungan bunga. Di sisi lain, sejumlah tabungan pendidikan pun sudah menyediakan layanan asuransi juga di dalamnya.

3. Daftar BPJS Kesehatan

Sebenarnya, anak sudah bisa didaftarkan ke BPJS Kesehatan saat dalam kandungan. Bila belum mendaftarkan dia, sekaranglah saatnya ketika sudah lahir.

Si Kecil Lahir
Ngapain nunggu-nunggu, bikin BPJS sekarang juga (bpjs kesehatan/Media Indonesia)

Caranya kurang-lebih sama dengan pendaftaran BPJS dewasa. Hanya, identitas anak didapat dari akta kelahiran dan kartu keluarga karena belum punya kartu tanda penduduk.

BPJS Kesehatan diwajibkan buat semua warga Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011. Meski sudah ada asuransi dari kantor, anak tetap harus didaftarkan ke BPJS. Toh, layanan BPJS dan asuransi swasta bisa digabungkan.

4. Asuransi jiwa orang tua

Setelah punya anak, artinya bertambahlah tanggung jawab kita. Kita tentunya gak mau anak tumbuh tanpa dampingan orangtua.

Tapi nasib orang siapa yang tahu? Bisa saja kita celaka ketika dalam perjalanan kantor atau lainnya. Kejadian ini kan gak bisa dicegah.

Namun kelanjutan hidup anak bisa lebih dipastikan jika kita ikut asuransi jiwa. Saat gak lagi bisa membiayai anak, entah karena tiada entah cacat permanen, ada uang pertanggungan dari asuransi jiwa.

Uang itu bisa dipakai untuk segala keperluan buah hati, dari kebutuhan sehari-hari sampai pendidikan. Kita tinggal seleksi saja mana asuransi jiwa terbaik buat kita.

5. Redekorasi rumah

Keberadaan anak kecil membuat kita harus berhati-hati dalam penempatan furnitur dan alat listrik. Meja kaca yang ujungnya lancip, misalnya, harus diberi pelindung agar anak gak tergores ketika menyentuhnya.

Stop kontak bisa diganti dengan yang memiliki pengaman. Atau dibuat lebih tinggi sehingga jauh dari jangkauan anak. Anak tangga juga mesti dipagari, agar si kecil tidak jatuh.

6. Pertimbangkan kartu kredit

Jika belum punya kartu kredit, mungkin kini saat yang tepat untuk memilikinya. Banyak penawaran kartu kredit berupa diskon atau promo lainnya untuk perlengkapan bayi.

Si Kecil Lahir
Siapkan kartu kredit yang pas buat belanja kebutuhan si kecil (Kartu kredit/Huffington Post)

Misalnya kartu kredit dari Bank Mega, apa pun jenisnya. Kartu kredit itu bisa dipakai untuk membeli perlengkapan bayi di Carrefour atau TransMart. Ada diskon 10 persen untuk tiap barang belanjaan.

Bisa juga kartu kredit lain yang bekerja sama dengan supermarket, misalnya Hero Permata atau Mandiri Hypermart.

Kartu non-supermarket pun ada yang memberikan fasilitas potongan harga hingga cicilan 0 persen. Layanan ini umumnya diberikan untuk transaksi online. Tapi bisa juga kita mendapat fasilitas tersebut untuk pembelian di toko fisik merchant tertentu.

Seru rasanya ketika ada anggota baru dalam keluarga. Apalagi jika kita sudah punya rencana matang akan melakukan apa setelah si kecil lahir.

Tanpa rencana, buah hati bisa tumbuh dan berkembang tak terarah. Umumnya, prioritas pertama dalam keluarga, termasuk soal pengeluaran, adalah kebutuhan anak.

Bila gak merencanakan segala sesuatunya, bukan mustahil kita kelabakan dalam memenuhi kebutuhannya. Termasuk harus berutang.

Utang bukanlah hal buruk. Tapi utang perlu dihindari bila bisa mengambil langkah lain yang lebih aman untuk keuangan keluarga. Sebab, dengan utang, diperlukan pula tanggung jawab dan kedisiplinan untuk bisa melunasinya.

 

CTA Mega Metro belanja mainan anak hemat

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Sebelum Berutang, Cari Tahu Dulu Bedanya Utang Produktif dan Utang Konsumtif]

[Baca: Buat yang Sayang Sama Anak. Simak 6 Kesalahan Saat Merencanakan Dana Pendidikan Anak]

[Baca: Punya Kartu Kredit Bikin Keuangan Sehat, Lho, Gak Percaya?]