Begini Nih Cara Mengelola Utang Biar Gak Bikin Pusing Kepala Barbie

Gak semua jenis pusing bisa disembuhkan dengan obat dari dokter. Salah satunya, pusing akibat mikir utang.

Satu-satunya cara mendepak rasa sakit kepala itu adalah melunasi utang. Masalahnya, buat sebagian orang, melunasi utang sama susahnya dengan naik ke puncak Jayawijaya di Papua.

Wajar jika kita pusing ketika utang menumpuk. Jangankan menumpuk, utang seiprit saja bisa bikin kepala goyang jantung berdegup kencang.

Terlebih jika penghasilan pas-pasan. Mau sampai kapan bayar cicilan sampai utang lunas? Apa harus terus hidup dalam kepusingan selagi utang masih ada?

Tentu saja bukan begitu. Kita perlu mengadopsi cara-cara agar utang gak terus-terusan jadi beban. Berikut ini adalah cara mengelola utang biar gak bikin pusing, siapa pun boleh coba mempraktikkannya.

1. Bikin anggaran

Anggaran harus ada dalam setiap kegiatan, termasuk membayar utang. Sebetulnya, anggaran utang ini sudah harus ada sebelum kita memutuskan mengambil utang. Hitung-hitungan itu menjadi strategi kita untuk menentukan cicilan dan kira-kira kapan utang bisa dilunasi.

cara mengelola utang
Kita emang suka lari dari kenyataan ya! Ayo selesaikan mulai dengan bikin anggaran dong! (Pasangan Berlari / Debtcamel)

Tapi gak mustahil anggaran berubah karena ada perubahan dalam kehidupan, misalnya gaji naik atau malah melorot. Intinya, anggaran ini harus memuat berapa penghasilan dan berapa kuota utang yang ideal.

Umumnya, rumus cicilan per bulan adalah maksimal 30 persen dari penghasilan. Misalnya gaji Rp 10 juta, berarti cicilan per bulan gak lebih dari Rp 3 juta. Bila lebih dari itu, kemungkinan besar keuangan bakal terganggu.

2. Sesuaikan pengeluaran

Ketika sudah memutuskan mau berutang, berarti pengeluaran otomatis disesuaikan. Kalau ada utang tapi pengeluaran masih kayak sebelumnya, pantas saja pusing melanda.

Penyesuaian ini antara lain meminimalkan jajan. Mengurangi, atau malah menghapus kebiasaan merokok, misalnya. Ketimbang buat beli rokok, mending duitnya untuk nambah-nambahin cicilan biar cepat lunas, sehingga gak pusing lagi.

Poinnya, kita mesti merelakan satu-dua hal yang menyedot penghasilan saat punya utang. Memang rela dilanda pusing terus-terusan?

cara mengelola utang
Pusing kepala Barbie mikirin jodoh yang gak datang-datang, eh salah, mikirin utang hehehe (Kepala Pusing / Dedaunan)

3. Cari sabetan

Salah satu hal yang juga mesti kita relakan adalah waktu dan tenaga. Tujuannya, menambah penghasilan agar utang lekas terbayar.

Kerjaan sabetan ini tidak boleh sampai mengganggu kerjaan utama, ya. Misalnya pagi-sore kerja kantoran, malam buka warung kopi. Namun paginya sudah harus segar lagi untuk bekerja, bukan kesiangan melulu.

Bukan mustahil penghasilan dari kerjaan sampingan itu lebih besar dari kerjaan utama. Nah, ketika ini terjadi, jangan buru-buru mundur dari kerjaan utama.

Lihat dulu situasi dan kondisinya, misalnya status kerja lama, sudah tetap atau masih kontrak. Begitu pula potensi keberlangsungan kerjaan sabetan. Jangan-jangan begitu berfokus ke sampingan malah kerjanya gak tahan lama.

4. Utang lagi bukan solusi

Gali lubang tutup lubang tampaknya jadi solusi yang bagus. Namun ada risiko yang mungkin gak terbayangkan dari faktor bunga.

Biasanya, praktik gali lubang tutup lubang gak melibatkan bank, melainkan rentenir. Sebab, bank akan berpikir 1000 kali untuk memberikan pinjaman ketika nasabah masih punya utang, meski itu di bank lain.

cara mengelola utang
Mas jangan tinggi-tinggi angkattangannya hehehe (Ekspresi Bahagia / WordPress)

Ada skor kredit dari Bank Indonesia yang jadi salah satu patokan bank untuk mencairkan pinjaman. Ketika kita punya masalah kredit, misalnya banyak utang tertunggak, skor kita jeblok. Dengan begitu, bank gak mau ambil risiko memberikan pinjaman lagi.

Sudah bukan rahasia, rentenir bisa menetapkan bunga mencekik terhadap peminjam duitnya. Sekali nunggak, langsung didatangi debt collector. Kalau sudah siap nanggung risiko itu sih silakan saja mau gali lubang tutup lubang.

Harus ditekankan, utang bukanlah penyakit yang bikin pusing. Kadang utang diperlukan untuk hidup. Misalnya beli rumah  lewat kredit. Kalau mau beli cash, mau nunggu sampai kapan?

Tapi utang ini harus diputuskan dengan komitmen melunasinya. Jadi, gak bisa sembarangan ambil utang. Orang-orang yang gak punya rencana sebelum berutang inilah yang rentan dihinggapi rasa sakit kepala hebat itu.

Mau utangnya, harus mau juga bayarnya. Bukan justru lari menghindarinya.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Ini Nih 5 Kebiasaan Buruk Mengatur Keuangan yang Harus Kamu Tinggalkan]

[Baca: Kalau Harga Rokok Jadi Naik, Apa Mau Maksain Beli?]

[Baca: Nih Usaha Sampingan Tanpa Modal Buat Karyawan Sibuk]

[Baca: Menutup Utang dengan Utang Memang Bahaya, Tapi Perhatikan Dulu 5 Hal Ini]