Bayang-Bayang Krisis Moneter 1998 Menghantui, Ini 4 Faktanya

Rupiah beberapa hari terakhir ini lagi jadi sorotan. Pasalnya, nilai tukar rupiah melemah hingga tembus Rp 15 ribu. Karena fakta tersebut, ada yang bilang Indonesia bakal alami krisis lagi seperti krismon 1998. Kok bisa?

Katanya sih, nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 15 ribu per dolar merupakan level terburuk sejak krismon 1998. Sekadar diketahui, nilai tukar rupiah tahun 1998 melonjak hingga Rp 16 ribu per satu dolar.

Tingginya nilai tukar rupiah saat itu bikin inflasi lepas kontrol, hingga angkanya melambung tinggi. Udah pasti inflasi yang naik drastis tersebut disebabkan naiknya semua harga barang dan jasa. Krismon 1998 pun terjadi, dan berujung pada PHK besar-besaran.

Karena histori Indonesia yang pernah alami krisis itu gak sedikit yang berpikir krismon 1998 bakal terulang lagi. Tapi, apa iya kondisi saat ini mirip tahun 1998?

Untuk menjawabnya, ternyata begini faktanya. Yuk, simak!

1. Selisih kenaikan rupiah 1998 lebih tinggi

Sebenarnya sih keliru menyamakan nilai tukar atau kurs rupiah waktu krisis moneter 1998 dengan nilai tukar sekarang. Asal tahu aja nih, nilai tukar rupiah tahun 1998 naik drastis dari Rp 2.362 per satu dolar menjadi Rp 16 ribu per satu dolar. Itu berarti ada selisih Rp 13 ribuan.

Jelas jauh banget dengan kenaikan nilai tukar rupiah saat ini. Pelemahan rupiah saat ini beranjak dari angka Rp 13.485 menjadi Rp 15 ribuan. Selisih kenaikannya cuma Rp 1.515, tentu aja jauh lebih kecil dibandingkan selisih kenaikan tahun 1998.

2. Inflasi tahun ini jauh lebih rendah dari tahun 1998

Krisis moneter 1998 timbul karena inflasinya udah gak terkendali. Dari 11,10 persen tahun 1997 melesat jauh menjadi 77,60 persen.

Inflasi yang sangat tinggi itu bikin rupiah gak berharga sama sekali. Pasalnya, semua harga barang dan jasa naik begitu cepat.

Bayangkan aja, mi instan yang harganya Rp 300 berubah cepat menjadi Rp 1.500. Orang-orang penghasilannya pas-pasan waktu itu makin susah buat memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari. Otomatis, angka kemiskinan bertambah besar.

Terbalik dengan keadaan sekarang. Meski rupiah udah tembus Rp 15 ribu, inflasi nyatanya gak begitu aja loncat hingga 70 persen.

Dilansir dari data Bank Indonesia (BI), inflasi terjaga di posisi 3,20 persen. Malahan angka tersebut terjaga stabil dari tahun sebelumnya.

3. Cadangan devisa tahun 1998 tinggal US$ 23,61 miliar

Pada masa Orde Baru, pemerintahan Presiden Soeharto memberlakukan Sistem Kurs Terkendali buat mengontrol nilai tukar rupiah. Dengan sistem kurs tersebut, nilai tukar terkendali.

Namun, pemberlakuan sistem itu menyebabkan cadangan devisa terus-menerus digunakan. Sekadar diketahui, salah satu kegunaan cadangan devisa adalah menstabilkan nilai tukar rupiah. Indonesia menyimpan dolar sebagai salah satu cadangan devisanya.

Tentu aja tergerusnya cadangan devisa gak bagus buat ekonomi. Sebab akan berpengaruh pada kebutuhan impor negara, pembayaran utang luar negeri, hingga investasi.

Pemerintah Orde Baru pada akhirnya menggunakan Sistem Kurs Mengambang dan membiarkan nilai tukar rupiah diserahkan pada pasar. Hasilnya, rupiah melesat hingga Rp 16 ribu. Sementara cadangan devisa tinggal US$ 23,61 miliar.

Jeleknya dari Sistem Kurs Mengambang ialah, pemerintah gak punya kontrol penuh atas nilai tukar. Namun, bisa intervensi dengan gunakan cadangan devisa secara terukur. Saat ini, cadangan devisa negara sekitar US$ 118,3 miliar.

4. Angka kemiskinan saat ini gak sebesar tahun 1998

 

Tingginya lonjakan nilai tukar rupiah diikuti naiknya inflasi berujung pada krismon 1998 menjadi faktor meningkatnya angka kemiskinan. Pada 1998, angka kemiskinan tercatat mencapai 49,5 juta atau 24,2 persen dari populasi penduduk Indonesia saat itu.

Sementara saat ini, angka kemiskinan udah jauh berkurang. Tercatat angka kemiskinan terakhir sebesar 25,9 juta orang atau 9,82 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Udah tahu kan sekarang bedanya kondisi saat krisis moneter 1998 dengan kondisi saat ini. Meski fakta nilai tukar rupiah tembus Rp 15 ribu per satu dolar, kita gak mengharapkan kok krisis terulang kembali.

Soalnya kalau sampai krisis terulang, banyak orang, termasuk kita yang dirugikan nantinya. Pastinya kamu gak pengin kan itu terjadi? Semoga aja pemerintah mampu mengatasi kondisi ini dan ekonomi tetap terjaga baik.