Awas, Kredit Rumah Tanpa DP Bisa Bikin Buntung Lho! Ini Alasannya

Ihwal pembelian rumah secara kredit tanpa down payment (DP) ramai jadi bahan pergunjingan sejak masa kampanye pemilihan Gubernur DKI 2017. Rumah tanpa DP jadi salah satu program kampanye calon gubernur saat itu.

Begitu sang calon terpilih, warga berbondong-bondong menagih janji kampanye. Tapi ternyata program itu belum juga terlaksana. Alasannya antara lain rumitnya penyusunan aturan program tersebut.

Sedari awal, Bank Indonesia sudah mewanti-wanti soal masalah program itu. Namun karena sudah kadung jadi bahan kampanye, program itu mesti direalisasi.

Bank Indonesia sendiri sudah punya aturan soal DP pembelian rumah secara kredit. Seperti dikutip dari CNBC, BI memutuskan melonggarkan aturan soal DP atau loan to value.

Dengan adanya pelonggaran itu, bank mendapat kebebasan melakukan manajemen risiko sendiri terhadap nasabah yang hendak memiliki rumah pertama.

BI tidak secara gamblang membebaskan bank memberi kredit rumah tanpa DP. Tapi bank boleh saja menerapkan DP 0 persen, asalkan itu sudah melalui pertimbangan risiko yang matang.

Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto menjelaskan, hanya bank sehat yang bisa memberikan layanan tersebut.

DP 0 Persen Buat Siapa?

rumah-tanpa-dp
Rumah kayak gini ditawarin DP o persen, siapa yang gak tergoda? (pexels)

BI tak mau sembarangan membebaskan DP rumah 0 persen untuk semua bank. Sebab, ada risiko kredit macet yang bisa mengganggu perekonomian nasional.

Inilah yang kadang tak disadari masyarakat. Harga properti yang kian hari kian tinggi memang menyulitkan warga untuk memiliki rumah sendiri. Bahkan generasi milenial disebut sulit memiliki rumah sendiri.

Peran pemerintah untuk mengendalikan progres kenaikan harga properti memang dibutuhkan. Di satu sisi, ada nilai jual objek pajak (NJOP) yang jadi sandaran pemerintah untuk menilai  harga suatu bangunan. Tapi di sisi lain, mekanisme pasar membuat harga properti jauh di atas NJOP yang ditetapkan pemerintah.

Melihat realitas itu, fasilitas kredit rumah tanpa DP memang sepintas sangat menggiurkan. Orang bisa punya rumah sendiri tanpa mesti mengeluarkan dana berpuluh-puluh juta sebagai uang pangkal.

Tapi kata “punya” di sini bisa menyesatkan. Nyatanya, rumah itu belum bisa dinyatakan sebagai kepunyaan sendiri hingga dilunasi.

Masyarakat berpenghasilan rendah yang jadi target program DP 0 persen atau 0 rupiah rentan tak bisa melanjutkan cicilan hingga lunas. Bank Tabungan Negara (BTN) punya pengalaman soal ini.

Angka kredit macet BTN pernah tinggi dan kebanyakan dialami nasabah yang bergaji pas-pasan. Karena penghasilan pas-pasan, alokasi untuk membayar cicilan pun demikian.

Ketika terjadi suatu hal yang mengganggu arus dana nasabah, misalnya ada pengeluaran mendadak, pembayaran cicilan jadi seret. Ujungnya adalah cicilan stop sama sekali karena sudah tak ada alokasi.

Kredit Rumah Tanpa DP Bikin Buntung

rumah-tanpa-dp
Itung-itung dulu untung-ruginya (pexels)

Dari penjelasan di atas, DP 0 persen sejatinya adalah program yang bagus untuk diterapkan bank. Namun ada sederet pertimbangan yang mesti dilihat sebelum bisa menjalankannya.

Pertama, bank yang memberikan layanan DP 0 persen haruslah yang benar-benar sehat. Misalnya angka kredit macet di bank itu di rendah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan angka kredit macet di bawah 2 persen untuk tahun 2018.

Kedua, warga yang hendak memanfaatkan fasilitas kredit rumah tanpa DP dari bank harus melewati seleksi yang ketat. Bank harus memastikan betul nasabah itu bisa membayar cicilan secara berkelanjutan hingga lunas.

Ketiga, nasabah mesti menilai kemampuan diri sebelum mengakses fasilitas DP rumah 0 persen. Jangan sampai hanya karena ngebet pengin punya rumah, lantas sembarangan mengajukan KPR.

Tanpa setidaknya tiga poin di atas, program rumah tanpa DP bisa bikin buntung. Warga atau nasabah KPR yang paling merasakan kerugian.

Karena tergiur ingin punya rumah tanpa menyetor DP, lantas tidak menghitung kemampuan bayar cicilan hingga lunas. Karena tanpa DP, otomatis cicilan itu tinggi dan tenor atau jangka waktu pembayarannya lama.

rumah-tanpa-dp
Jangan sampai akhirnya malah pusing sendiri lunasin KPR (pinterest)

Inilah risiko yang bisa bikin buntung. Kita tak pernah bisa memprediksi tepat apa yang akan terjadi pada masa mendatang.

Bisa saja sekarang kita nyaman bekerja dengan gaji tetap, tapi beberapa tahun mendatang pekerjaan hilang entah karena apa. Ketika hal itu terjadi, keuangan bakal terganggu. Termasuk pembayaran cicilan rumah. Belum lagi ada risiko kenaikan bunga bank yang bisa memberatkan cicilan dari tahun ke tahun.

Itu sebabnya disarankan mengambil KPR dengan tenor sesingkat mungkin. Hal itu berguna untuk mencegah kredit seret.

Meski demikian, program DP rumah 0 persen ini patut didukung untuk membantu warga memiliki rumah sendiri. Lagi pula, hunian atau papan adalah kebutuhan pokok selain sandang dan pangan.

Hanya, perlu perhitungan matang sebelum memanfaatkannya. Pastikan kemampuan finansial mencukupi agar fasilitas kredit rumah tanpa DP itu gak malah bikin buntung.