Awas! Ini 5 Pengeluaran Dadakan Pas Mudik yang Bisa Bikin Batal Lebaran

Orang mudik Lebaran tentu tujuannya adalah berlebaran di kampung halaman. Tapi apa jadinya jika terjadi suatu hal yang bikin rencana itu berantakan?

Kita bisa saja bikin rencana mudik yang tampaknya sempurna. Namun di tengah perjalanan mudik bisa muncul pengeluaran tak terduga yang bikin kecewa.

Pengeluaran ini, terlepas dari berapa pun nominalnya, pasti sebisa mungkin dihindari saat mudik. Berikut ini lima pengeluaran tak terduga yang sering didapati saat mudik Lebaran:

1. Akomodasi ekstra

Pengeluaran ini terutama muncul jika naik pesawat. Delay atau penundaan penerbangan gak hanya bikin jengkel, tapi juga bikin pengeluaran bertambah.

Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 85 Tahun 2015, keterlambatan penerbangan dikelompokkan jadi enam kategori.

– Terlambat 30-60 menit, kompensasi minuman ringan
– Terlambat 61-120 menit, kompensasi minuman dan makanan ringan (snack box)
– Terlambat 121-180 menut, kompensasi minuman dan makanan berat (heavy meal)
– Terlambat 181-240 menit, kompensasi minuman, makanan ringan, dan makanan berat
– Terlambat lebih dari 240 menit, kompensasi ganti rugi Rp. 300.000
– Pembatalan penerbangan, kompensasi pengalihan ke penerbangan berikutnya atau pengembalian uang tiket seluruhnya

Penumpang yang mengalami keterlambatan penerbangan 61 menit hingga lebih dari 240 menit juga bisa meminta dialihkan ke penerbangan berikutnya atau pengembalian tiket seluruhnya.

Masalahnya, tidak semua maskapai responsif dengan mematuhi aturan itu. Kompensasi baru diberikan setelah diprotes beramai-ramai.

Akibatnya, penumpang mesti merogoh kocek sendiri untuk akomodasi ekstra, misalnya buat makan-minum hingga menginap jika penerbangan dialihkan ke hari berikutnya. Kita mesti siap dengan kejadian ini, meski tak mengharapkannya. Tahu gitu, mending mudik Lebaran naik kereta aja ya.

2. Servis mobil dan bensin ekstra

mudik-lebaran
Pakai jeriken yang sesuai standar, bukan asal bisa nampung bensin (kompas.com)

Mudik pakai mobil sendiri ada enaknya, ada pula gak enaknya. Enak karena bisa berangkat dan istirahat kapan pun. Di kampung pun bisa keliling-keliling dengan kendaraan sendiri.

Yang gak enak adalah ada risiko kejebak macet dan mobil rusak. Risiko inilah yang jadi pengeluaran tak terduga saat mudik.

Kemacetan parah di jalan tol beberapa tahun lalu, misalnya, entah membuat berapa ribu liter bensin menguap percuma. Belum lagi jika apes terlibat kecelakaan.

Badan yang letih dan mengantuk sering jadi penyebab utama kecelakaan saat mudik. Apalagi dalam kondisi puasa. Untuk mengatasinya, jangan ragu menepi untuk beristirahat barang setengah sampai satu jam.

Tak apa agak terlambat sampai di kampung. Ketimbang pulang tinggal nama.

Soal bensin, bisa bawa bensin cadangan di jeriken khusus. Jeriken itu harus berbahan aluminium atau lainnya yang gak bisa menghantarkan listrik statis. Asal bukan jeriken plastik, apalagi botol bekas air mineral.

3. Anak meluber

Di kampung, terutama di Jawa, masih ada tradisi sungkeman keliling rumah yang dilakukan anak-anak dalam kelompok. Mereka sungkem minta maaf, tapi juga sekaligus mengharapkan amplop Lebaran.

Mungkin kita sudah siapkan bujet untuk amplop ini, tapi ternyata jumlah anak di kampung meluber melebihi perkiraan. Otomatis perlu rogoh kocek lagi buat tambahan.

Untuk mengakalinya, sediakan dana lebih dari rumah. Lalu jangan pukul rata nominal uang untuk semua anak. Buat anak balita, misalnya, diberi angpau Rp 2.000 juga sudah senang.

Sediakan pecahan Rp 2.000 saja agar lebih mudah bagi-baginya. Cara terakhir bila dana sudah tandas: “kabur”. Mungkin bisa jalan-jalan ke mal atau kunjungi sanak keluarga di daerah lain.

4. Rekreasi tak sesuai rencana

mudik-lebaran
Mudik juga sering jadi momentum reuni, siapkan dana untuk hal ini (viva.co.id)

Namanya pulang kampung, pasti banyak tetangga, teman, sampai mantan yang beranjangsana. Masalah muncul ketika mereka masing-masing mengajak keluar untuk sekadar nongkrong bareng hingga rekreasi berombongan.

Kalau yang mengajak mantan, mungkin kita gampang saja menolak. Tapi bila teman-teman sekolah yang menawarkan ajakan, masak menolak. Nanti dikira sombong lagi.

Dalam hal ini, tentu kita mesti siap dengan pengeluaran tak terduga. Untuk mengakalinya, usulkan rekreasi di tempat yang dekat-dekat saja. Atau kalau bisa cukup nongkrong atau makan bareng di mal terdekat agar pengeluaran tak terlalu banyak.

Bisa juga ajak rekreasi bareng sekeluarga semuanya. Jadi sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.

5. Sakit di kampung atau di jalan

mudik-lebaran
Pemudik bersepeda motor yang rentan mengalami sakit di jalan, terutama kecelakaan (hsecenter.org)

Sakit di mana pun pasti bikin pengeluaran bertambah. Apalagi jika tak ada asuransi atau BPJS Kesehatan.

Maka, mesti siap juga jika menghadapi pengeluaran  tak terduga karena sakit. Bawalah kartu asuransi dan BPJS Kesehatan untuk berjaga-jaga.

Tak ada yang mau membobol dompet untuk pengeluaran tak terduga saat mudik Lebaran. Tapi nasib tak bisa ditebak. Namanya juga tak terduga.

Kita hanya bisa menyiapkan diri untuk skenario terburuk itu. Bila tidak demikian, bisa-bisa batal rencana Lebaran di kampung halaman.