Awas! Ini 4 Kesalahan Kecil yang Bisa Bikin Tenggelam dalam Utang

Utang itu seperti air. Bisa menjadi penolong bagi yang merasa dahaga, tapi juga bisa menghanyutkan buat orang yang kemaruk. Alhasil, jadilah terlilit utang.

Namun ada juga orang yang “tak sengaja” tenggelam dalam utang lantaran melakukan kesalahan yang sebetulnya kecil belaka. Manusia memang tempatnya kesalahan, tapi bukan berarti hal itu tak bisa dihindari.

Berikut ini kesalahan kecil yang bisa bikin kamu terlilit utang:

1. Bayar utang pakai utang

Satu utang saja sudah bikin pusing, apalagi dua. Mungkin niatnya melunasi utang dengan utang lain. Di satu sisi, cara ini tampaknya manjur sebagai pereda beban.

Tapi di sisi lain, utang yang baru menjadi beban yang baru pula. Apalagi jika bunga utang yang baru lebih besar.

Mestinya ditelusuri, kok bisa susah bayar utang. Mungkin ada yang salah dalam hal pengaturan keuangan. Misalnya lebih banyak pengeluaran untuk konsumsi yang mestinya bisa dihindari, seperti nongkrong atau jajan, bahkan rokok.

Bayar utang pakai utang bisa saja jika mendapat tawaran bunga yang lebih ringan. Tapi tetap perlu diimbangi dengan rencana pelunasan yang matang. Bukan asal ambil utang saja.

Yang juga berbahaya adalah menjadikan hal itu sebagai rutinitas alias terus-terusan gali lubang tutup lubang. Mau sepanjang hidupmu dibebani utang yang tak kunjung habis?

2. Denda karena telat bayar

terlilit-utang
Banyak denda kecil yang kalau terakumulasi jadi beban besar, hati-hati (bppk.kemenkeu.go.id)

Sebagai warga, membayar ini-itu adalah hal biasa yang mestinya tak dilewatkan. Misalnya pajak bumi dan bangunan, perpanjangan SIM dan STNK, hingga tagihan listrik serta air.

Pembayaran yang mestinya jadi rutinitas itu acap kali justru terlupakan. Konsekuensinya adalah timbul denda atau penalti. Denda telat bayar PBB atau tagihan yang cuma sebulan mungkin kecil. Tapi lain halnya bila lupa perpanjang SIM dan STNK.

Risikonya adalah ditilang di jalan. Bahkan untuk SIM harus bikin ulang dengan biaya lebih besar karena saat ini SIM yang sudah mati tak bisa lagi diperpanjang.

Yang lebih parah adalah lupa keterusan atau sengaja gak bayar entah karena malas atau apa pun. Ujungnya adalah kewajiban bayar numpuk dengan denda-dendanya.

Bila beberapa bulan gak bayar tagihan listrik dan air pun konsekuensinya gak main-main. Aliran bakal dicabut dan kita diwajibkan bayar instalasi ulang yang tarifnya mencapai jutaan. Pembayaran rutin mestinya jadi perkara kecil.

Agar tidak lupa, bisa pakai fitur autodebet dari kartu kredit atau tabungan. Yang paling simpel ya pasang alarm pengingat di handphone agar gak lupa bila tiba saatnya untuk membayar.

3. Transfer gak teliti

terlilit-utang
Bila sadar ada kesalahan, segeralah diurus biar saldo bisa kembali (tempo.co)

Ada dua kemungkinan dalam poin ini. Pertama, transfer pembayaran tagihan kurang, sehingga dianggap belum melunasi. Misalnya seharusnya bayar tagihan kartu kredit Rp 1.000.000, ternyata kurang angka 0 satu.

Walhasil, masih sisa Rp 900.000 yang belum dibayar. Kekurangan itu lantas jadi beban utang yang kena persentase bunga atau denda yang terus menumpuk bila tak segera disadari. Demikian juga saat membayar tagihan lain.

Kedua, transfer dana kelebihan. Namun ini bukan untuk bayar tagihan. Misalnya beli barang via Instagram dengan transfer langsung ke rekening penjual.

Kita merasa transfer Rp 100.000, tapi ternyata kelebihan angka 0 satu dan tidak sadar. Kalau penjualnya sadar dan mau berbaik hati mengembalikan, untung. Kalau sebaliknya? Terlebih jika kejadian gak teliti ini gak cuma sekali-dua kali. Bisa boncos lama-lama.

4. Tak terbuka kalau ada utang

terlilit-utang
Berani berkeluarga, berani terbuka juga dong soal semuanya (metro.co.uk)

Bila sudah berkeluarga, sebaiknya terbuka dalam urusan apa saja. Apalagi jika menyangkut utang. Ingat, kita sudah tidak lagi bertindak sebagai individu.

Ada suami/istri yang jadi satu paket dengan diri kita. Lebih-lebih bila sudah punya anak.

Mengambil utang secara sembunyi-sembunyi gak hanya akan merugikan diri sendiri. Bila berutang bersama-sama, solusi untuk melunasinya bisa dipikirkan bersama-sama pula. Kerja sama dalam keluarga amatlah dibutuhkan.

Kesalahan-kesalahan di atas mestinya bisa dihindari karena amat kecil. Tapi memang, diperlukan kesadaran diri dan kedisiplinan untuk itu. Bila yang kecil saja tak bisa dicegah, bagaimana dengan kesalahan besar, yang tentunya membawa risiko yang lebih besar.