Awas, Asuransi Pendidikan Justru Bisa Hambat Masa Depan Anak

Asuransi pendidikan kerap dipilih sebagai sarana untuk memastikan masa depan pendidikan anak. Tapi para orang tua gak jarang luput memperhitungkan risiko asuransi pendidikan, terutama yang berjenis unit link.

Walhasil, asuransi yang tadinya digadang-gadang untuk menyokong justru malah menghambat masa depan anak. Kesalahan sebenarnya gak mutlak di tangan orang tua.

Bisa jadi ada peran agen asuransi pendidikan di sini. Para agen semestinya menjelaskan seluk-beluk asuransi pendidikan yang ditawarkan kepada para orang tua.

Namun, demi mengejar target, agen asuransi hanya memberikan yang manis-manis. Sedangkan kemungkinan pahitnya ditinggal, takut calon nasabah jadi mundur.

Padahal risiko asuransi pendidikan gak main-main. Bila orang tua sudah telanjur termakan janji-janji manis agen tanpa mengetahui risikonya, dampaknya akan sangat berbahaya.

asuransi pendidikan
Ada sih program pemerintah, tapi masih ada masalah yang bikin gelisah (republika.co.id)

Berikut ini beberapa risiko asuransi pendidikan yang bisa menghambat masa depan anak:

1. Dana premi berkurang

Agen mungkin akan mengatakan dana premi yang kita setorkan akan memberi hasil sekian dalam waktu sekian tahun, lalu membesar jadi sekian jika lebih lama. Itu betul, namun hanya berupa ilustrasi kemungkinan.

Faktanya, ada risiko dana premi yang kita setorkan berkurang saat periode waktu itu tercapai. Sebab, dana tersebut dijadikan modal investasi. Hasil investasi itulah yang menjadi keuntungan nasabah asuransi pendidikan.

Namun, layaknya investasi, ada risiko kerugian. Itu artinya bisa saja dana premi justru berkurang, atau bahkan habis, lantaran investasi yang dilakukan perusahaan asuransi gagal atau gak menghasilkan sesuai dengan yang diilustrasikan.

2. Ada potongan hingga 5 tahun

asuransi pendidikan
Siap punya anak, harus siap membiayai pendidikannya juga (pinjamduitcepat.com)

Dana premi yang kita bayarkan selama 5 tahun pertama akan dipotong sebagai biaya akuisisi. Bila agen asuransi pendidikan yang menghubungimu gak memberi tahu tentang biaya ini, tinggalkan saja.

Biaya akuisisi adalah biaya yang dikenakan perusahaan, biasanya selama 5 tahun pertama polis, untuk membayar fee/komisi agen serta pembuatan polis. Biaya ini berbentuk persentase, biasanya turun dari tahun ke tahun.

Pada tahun pertama, misalnya, biaya akuisisi sebesar 75 persen. Berarti dana premi yang digunakan untuk investasi hanya 25 persen. Jadi, keuntungan investasi otomatis bakal lebih kecil karena modalnya pun kecil untuk 5 tahun pertama.

[Baca: Benarkah Asuransi Pendidikan Unit Link Bisa Menjamin Masa Depan Anak?]

3. Uang pertanggungan lebih kecil

Saat pertama kali menawarkan polis, agen asuransi pasti akan menyinggung soal uang pertanggungan jika orang tua meninggal. Namun mungkin tidak disebutkan ihwal kemungkinan bahwa uang pertanggungan lebih kecil.

Atau mungkin disebutkan, namun tidak terlalu jelas. Di sisi lain, para orang tua digiring untuk lebih berfokus pada hasil investasi asuransi pendidikan yang dijanjikan.

Padahal, karena duit premi dibagi-bagi untuk beberapa biaya, uang pertanggungan bisa jadi lebih kecil dari yang diilustrasikan. Akan sangat berisiko bila gak sepenuhnya paham mengenai besaran uang pertanggungan dari asuransi pendidikan ini kelak, terutama jika terjadi sesuatu pada orang tua.

4. Instrumen investasi bikin rugi

asuransi pendidikan
Gak ada yang mau anaknya tertinggal dalam pendidikan, tapi tetap harus cermat dalam menentukan pilihan (infoperbankan)

Ini berhubungan dengan poin pertama. Dalam asuransi pendidikan unit link, dana premi dialokasikan untuk investasi.

Perusahaan asuransi sebagai pengelola dana berhak pula mengelola investasi itu. Sayangnya, tetap ada risiko instrumen investasi yang dipilih malah bikin rugi.

Misalnya dana digelontorkan untuk investasi saham dengan pertimbangan ada return yang tinggi. Namun mungkin orang tua belum mengerti, risiko investasi saham juga tinggi, setinggi return yang dijanjikan.

Jadi, ketika yang terjadi kemudian adalah investasi asuransi pendidikan berujung kegagalan, pertaruhannya adalah masa depan pendidikan anak. Harus dipastikan bahwa instrumen yang dipilih gak mendatangkan kerugian.

5. Tergiur rider tanpa cari informasi

Asuransi pendidikan punya fitur rider yang kerap ditawarkan oleh agen. Rider adalah asuransi tambahan yang mendampingi asuransi utama.

Misalnya Pak Budi ditawari asuransi pendidikan. Asuransi ini berfokus pada pendidikan anak kelak. Adapun rider-nya mungkin berupa asuransi kesehatan atau asuransi jiwa.

Memang, ada tambahan proteksi yang diberikan lewat rider tersebut. Namun mungkin gak diinformasikan bahwa karena ada rider, dana premi yang dialokasikan untuk investasi pun berkurang untuk rider tersebut.

Artinya, hasil investasi yang diandalkan untuk membiayai pendidikan anak kelak bisa gak sesuai dengan ilustrasi. Bahkan jauh di bawah ilustrasi yang diberikan agen asuransi pendidikan.

[Baca: Punya Asuransi Pendidikan tapi Anak Meninggal, Uangnya ke Mana?]

Sejatinya, seperti produk asuransi lain, asuransi pendidikan sangatlah bermanfaat. Sesuai dengan namanya, asuransi ini ditawarkan untuk lebih memberi kepastian akan masa depan pendidikan anak.

Tahu sendiri biaya pendidikan makin lama makin mahal. Dengan asuransi pendidikan, diharapkan biaya itu bisa disiapkan semaksimal mungkin.

Yang jadi masalah adalah orang tua gak teliti dalam menerima informasi dari agen asuransi atau gak mau cari tahu lebih lanjut. Hati-hati, dari awalnya bertujuan melindungi anak, justru keputusan mengambil asuransi pendidikan dengan cara seperti itu malah bisa menghambat masa depan sang buah hati.

[Baca: Menyiapkan Biaya Pendidikan Anak Gak Bisa Sembarangan. Lakukan dengan 5 Langkah Ini]