Averaging, Strategi Investasi Ketika IHSG Kurang Bersahabat

Artikel ini dipersembahkan oleh mitra produk investasi kami Bareksa.com

Bareksa Logo

Bareksa.com – Apakah sekarang waktu yang tepat untuk berinvestasi?. Pertanyaan seperti ini selalu saja muncul ketika seseorang baru pertama kali berniat melakukan investasi di pasar modal. Apalagi ketika kondisi pasar saham sedang “jatuh”.

 

Bursa saham Indonesia sejak awal tahun tidak dalam kondisi bullish atau menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal 2015 hingga Kamis, 9  Juli 2015 turun 8 persen ke level 4.838, level terendah sejak Oktober 2014.
Seorang manajer investasi internasional pernah mengingatkan nasihat dari Warren Buffet mengenai kejatuhan pasar dan investasi.

 

“Turunnya harga saham merupakan kesempatan untuk membeli lebih banyak, lebih murah. Beli saham ketika mereka jatuh pada harga termurahnya dan jual kembali ketika sudah tinggi, seperti nasihat Warren Buffett,” kata John Bogle pendiri Vanguard Grup, perusahaan manajer investasi asal Amerika Serikat.

 

Tetapi tetap saja ada keraguan dari kita sebagai investor “baru” yang belum memiliki cukup banyak pengetahuan dan pengalaman di pasar modal. Kekhawatiran terbesar adalah bagaimana jika pasar kembali jatuh?

 

“Dalam kondisi seperti ini, investor bisa masuk secara bertahap,” kata Jos Parengkuan, Presiden Direktur PT Syailendra Capital saat berdiskusi dengan Bareksa (9/7).

 

Senada dengan pendapat John Bogle, Jos juga menilai bahwa penurunan pasar saham bisa dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk membeli instrumen investasi –terutama reksa dana bagi investor pemula. Namun menurut dia, sebaiknya tidak semua dana tunai yang kita miliki langsung diinvestasikan ke pasar.

 

Kita bisa memasukan dana secara bertahap untuk berjaga-jaga jika indeks kembali menurun. Strategi ini sering juga disebut sebagai “averaging” atau merata-ratakan harga pembelian.

 

Misalnya, pada 1 Agustus kita membeli 100 unit penyertaan (UP) reksa dana saham dengan nilai NAB (harga reksa dana) Rp5.000 per UP. Kemudian pada 2 Agustus, harga reksa dana turun menjadi Rp4.500 per UP. Karena harga turun, kita bisa melakukan averaging dengan membeli sejumlah unit penyertan pada harga tersebut. Misalnya saja, pada 2 Agustus kita membeli 100 UP, sehingga setelah transaksi ini kita miliki sebanyak 200 unit penyertaan dengan NAB rata-rata Rp4.750 per unit penyertaan.

 

Strategi investasi seperti ini juga sering dilakukan Manajer Investasi asing dalam melakukan investasi. Salah satunya oleh Aberdeen Asset Management, perusahaan investasi asal Skotlandia. Aberdeen yang memiliki lebih dari 8 persen saham PT Astra International Tbk (ASII) tidak lantas menjual saham tersebut ketika harganya turun. Malahan, perusahaan investasi ini membeli secara bertahap untuk mendapatkan saham Astra pada harga yang lebih murah.

 

Grafik: Pembelian Aberdeen Atas Saham ASII

 

 

Harga saham Astra sempat menurun drastis pada April 2015. Saat itu, Aberdeen melakukan averagingdengan membeli saham Astra secara bertahap. Semakin murah –turun– harga saham Astra, semakin banyak juga jumlah saham yang dibeli oleh Aberdeen.

 

Sampai saat ini harga saham ASII memang belum menunjukan tren positif. Tapi perlu diketahui juga bahwa Aberdeen masih terus membeli saham perusahaan otomotif ini. Mereka bisa mendapatkan saham Astra pada harga yang lebih murah.

 

Strategi seperti ini tentunya juga bisa diterapkan dalam investasi reksa dana, terutama reksa dana saham yang lebih fluktuatif. Saat IHSG  menurun, kita bisa mulai mengumpulkan reksa dana saham secara bertahap sampai mencapai titik pelemahan terdalam.

 

 

 

Baca Juga:

Reksa Dana Merupakan Alternatif

Investasi? Jangan Tunggu IHSG Mencapai Puncak

Inilah yang Membuat Reksa Dana Unggul Dibanding Produk Investasi Lainnya

 

 

 

Image credit:

  • http://media.bareksa.com/resources/image/2015/07/10936/id_14365119391.png