Asuransi Jiwa Syariah Ada Gak Cuma Soal Halal, Tapi Buat Melindungi Masa Depan

Beberapa waktu lalu sempat heboh berita Majelis Ulama Indonesia mengharamkan asuransi BPJS. Kabarnya, asuransi yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial itu mengandung unsur gharar (ketidakjelasan dana), unsur maisir (judi/ gambling) dan riba (bunga).

 

[Baca: BPJS Hangus Kalau Tidak Bayar Iuran?]

 

Gara-gara kabar itu, spontan asuransi syariah langsung mencuri perhatian. Alhasil, sebagian orang pihak lebih nyaman dengan produk tersebut untuk mengalihkan risiko. Rasa sregnya lebih pada pengelolaannya yang sesuai prinsip syariah.

 

[Baca: Antara Deposito Syariah dan Reksa Dana Syariah, Mana yang Bikin Untung?]

 

Beda asuransi syariah dengan konvensional

Bila mengacu pada Dewan Syariah Nasional, pengertian asuransi jiwa syariah (Ta’mim, Takaful, atau Tadhamum) adalah usaha untuk saling melindungi atau tolong menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset atau tabarru/ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui sebuah perjanjian yang sesuai dengan syariah.

 

Dari pengertian itu, jelas sekali bedanya antara asuransi syariah dengan yang konvensional. Rinciannya paling mendasarnya sebagai berikut:

 

1.Prinsip asuransi syariah adalah tolong menolong (takafuli). Maksudnya, antarnasabah saling tolong kepada nasabah yang mengalami kesulitan atau musibah. Bandingkan dengan asuransi konvensional yang menekankan pada prinsip jual beli antara perusahaan asuransi dengan nasabah.

 

  1. Pembayaran klaim nasabah asuransi syariah berasal dari rekening tabarru (dana sosial) yang merupakan himpunan dana seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk nasabah yang mengalami musibah. Lain halnya asuransi konvensional yang klaimnya dibayar dari uang milik perusahaan asuransi.

 

  1. Asuransi syariah diawasi dengan ketat oleh Dewan Syariah Nasional (DSN). Lembaga ini yang memantau dari A sampai Z yang dilakukan pengelola asuransi syariah.

 

  1. Asuransi syariah berprinsip bagi hasil sehingga keuntungan investasinya dibagi antara nasabah dan perusahaan selaku pengelola. Sedangkan asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya milik perusahaan.

asuransi jiwa syariah

Mau asuransi syariah atau konvensional monggo dipilih sesuai kebutuhan

 

  1. Dana nasabah asuransi syariah dinvestasikan lagi ke produk investasi syariah dengan sistem bagi hasil. Lain halnya dengan konvensional di mana dananya bisa dikembangkan di berbagai instrumen investasi yang menerapkan sistem bunga.

 

  1. Uang yang disetorkan nasabah ke perusahaan asuransi syariah tetap milik nasabah. Sedangkan perusahaan asuransi syariah hanya mengelolanya saja. Bandingkan dengan asuransi konvensional di mana premi milik perusahaan sepenuhnya.

 

  1. Asuransi syariah tidak mengenal dana hangus di mana dana yang disetorkan bisa diambil kembali kecuali sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk tabbaru’ yang tak bisa diambil. Sementara asuransi konvensional jika tidak ada kliam maka premi hangus.

 

Mekanisme kerja asuransi syariah

Dasar prinsip syariah itu ditekankan tidak ada pihak yang dirugikan. Di sinilah pokok utama asuransi syariah karena semua pihak mendapatkan manfaat berdasarkan kesepakatan yang dibuat sejak awal.

 

Bagaimana cara kerjanya? Jadi begini, peserta menyetorkan dana. Cuma dana ini bukan disebut premi melainkan tabarru’. Makna dari tabbaru’ adalah sumbangan atau derma. Nah, peserta wajib mengikhlaskan sumbangan ini ketika peserta lainnya mengalami musibah.

 

asuransi jiwa syariah

Kalau asuransi syariah dipilih sebagai pelengkap BPJS ya sah-sah saja

 

 

Misalnya begini, jika peserta meninggal dunia dalam masa perjanjian, ahli waris mendapatkan uang santunan dari dana tabarru’ dengan nilai yang disepakati dari awal. Sebaliknya, jika peserta berumur panjang sampai masa perjanjian habis, maka akan mendapat alokasi bagi hasil yang disepakati di awal.

 

[Baca: 4 Jenis Asuransi Jiwa yang Sebaiknya Diketahui]

 

Nah, peran dari perusahaan asuransi syariah adalah mengelola dana tabarru’ tersebut setelah mendapat persetujuan dari seluruh peserta. Persetujuan dari peserta itu menjadi syarat mutlak dalam pengelolaan. Syarat berikutnya, pengelolaan dananya juga wajib berbasiskan investasi syariah dan terbebas dari unsur ribawi.

 

Itulah fakta-fakta asuransi berbasis syariah yang menekankan tidak ada yang dirugikan sekaligus memberikan kepastian. Menariknya, produk ini tak ekslusif bagi muslim saja tapi juga pemeluk agama lain sepanjang prinsip syariah ini dinilai adil.

 

[Baca: Jurus Pilih Asuransi yang Tepat Biar Enggak Bingung]

 

 

 

Image credit:

  •  http://www.lahiya.com/wp-content/uploads/2015/10/bank-syariah.jpg
  • http://jurnal-allianz.com/system/files/resource/354/77588167_1200x1600px__72dpi.png