Argumentasi Kuat untuk Memperbesar Limit Kartu Kredit Kesayangan

”Maaf, kartu kreditnya sudah over limit.” Sepertinya itu kalimat standar yang diucapkan kasir seusai gagal berkali-kali menggesekkan kartu kredit di mesin EDC saat transaksi. Ketika sudah over limit, praktis kartu kredit jadi ‘sampah’. Dia sama sekali tak bisa digunakan sampai tagihan dilunasi dulu.

 

Ya limit kartu kredit adalah batas paling atas utang dalam suatu waktu, biasanya per bulan. Atau dengan kata lain, kartu kredit itu selalu punya jumlah maksimum transaksi yang bisa digunakan. Besarannya sendiri tergantung dari jenis kartu kreditnya, silver, gold, atau platinum.

 

Jadi kalau limitnya Rp 10 juta dan akumulasi transaksinya mencapai Rp 9,9 juta, maka kalau mau gesek Rp 1 juta lagi bakal ada dua akibatnya. Pertama, ada sebagian kartu kredit yang masih membolehkan tapi dengan catatan kena biaya overlimit. Kedua, bisa jadi langsung ditolak transaksinya.

 

Pendek kata, limit seolah jadi rambu paling penting dalam penggunaan kartu kredit. Nekat bertransaksi sampai overlimit bakal mengeluarkan biaya lebih banyak karena dikenai denda.

 

Parahnya lagi kalau kartu kredit itu digunakan untuk melunasi tagihan rutin seperti PLN, PDAM, TV berbayar dan lain sebagainya. Ketika sudah overlimit, praktis bakal menuai masalah karena tagihan itu gagal terbayarkan atau terkena biaya.

 

Lalu apakah limit kartu kredit itu merupakan harga mati? Tentu saja tidak. Besaran limit kartu kredit itu dinamis.

 

Jika sudah merasa cukup dengan limit yang sekarang, tentu tak ada masalah. Lain halnya jika dinilai terlalu kecil maka perlu opsi memperbesar limit kartu kredit dari yang ada sekarang.

 

Artinya, tak perlu galau kalau limit kartu kredit sekarang terlalu kecil. Masih ada kesempatan bernegosiasi dengan bank penerbit kartu kredit agar besaran limitnya direvisi. Nah, kira-kira alasan kuat apa saja ya untuk menaikkan limit kartu kredit? Baca di bawah ini ya.

 

1.Makin banyak tagihan rutin yang dibayarkan via kartu kredit

Coba hitung berapa banyak tagihan rutin bulanan yang mesti diselesaikan tiap bulannya? Misalnya saja tagihan listrik, PDAM, langganan TV berbayar, internet, telepon, dan lain-lain. Semua tagihan yang menumpuk itu bisa diselesaikan lewat kartu kredit. Biarkan kartu kredit yang menyelesaikan semua tagihan itu.

 

Itung deh berapa banyak tagihan rutin yang mesti dilunasi. 

 

 

Nah, kalau dirasa daftar tagihan rutin makin banyak yang sendirinya membuat jumlahnya membengkak dan tak bisa diatasi dengan limit kartu kredit sekarang, maka itu saatnya berpikir untuk menaikkan limit kartu kredit.

 

Di samping itu, masak punya kartu kredit hanya habis untuk melunasi tagihan bulanan saja?

 

2.Butuh dana cadangan untuk kondisi darurat

Dana cadangan atau darurat ini sifatnya penting. Pakar perencanaan keuangan Safir Senduk pernah mengingatkan agar besaran dana cadangan atau darurat ini nilainya 10 kali dari biaya hidup bulanan. Jadi ketika biaya hidup bulanan mencapai Rp 7 juta per bulan, maka idealnya dana daruratnya Rp 70 juta.

 

Nah, kebutuhan dana darurat ini bisa diatasi lewat kartu kredit. Besaran limit kartu kredit bisa disesuaikan dengan kebutuhan dana darurat. Jadi tak perlu lagi opsi menjual aset seperti mobil, emas, atau malah menggadaikan sertifikat rumah ketika butuh uang mendadak.

 

3.Standar hidup hidup berubah

Standar hidup itu biasanya mengikuti pendapatannya. Bukan sebaliknya ya!

 

Begitu pendapatan naik, secara tak langsung akan mengubah standar hidup seseorang. Jika awalnya bergaji Rp 10 juta lalu naik jadi Rp 15 juta, pastinya gaya hidupnya akan berubah. Ketika awalnya enggak ada anggaran untuk ngegym, tapi pas gaji naik bisa jadi tiap bulan ada pengeluaran untuk olah tubuh itu.

 

 

Makin tinggi pendapatan biasanya diikuti dengan perubahan gaya hidup

4.  Sebagai modal bisnis

Bagi sebagian orang, kartu kredit bisa jadi modal berbisnis. Misalnya saja membeli barang dagangan dengan kartu kredit terlebih dulu untuk kemudian dijual lagi. Ketika bisnis makin lancar dan menuntut pembelian barang dalam jumlah banyak, maka memperbanyak limit kartu kredit bisa dipertimbangkan di sini.

 

Dalam konteks di sini, limit kartu kredit yang besar bisa masuk dalam utang produktif. Tentu saja diperhatikan betul kalau hasil bisnis itu bisa menutupi tagihan kartu kredit tepat waktu. Kalau meleset, bakal menuai masalah. Selain kena bunga yang tinggi, juga ada denda keterlambatan.

 

5. Sering traveling keluar negeri

Berbelanja dengan kartu kredit saat traveling lebih praktis ketimbang bawa tunai. Uang tunai justru merepotkan karena mesti ditukarkan dulu dengan mata uang negeri setempat. Beda sama kartu kredit yang tinggal gesek saja.

 

Selain itu, kartu kredit juga membantu dalam melunasi biaya traveling seperti tiket pesawat, akomodasi, transportasi, dan lain sebagainya. Di samping itu, pemegang kartu kredit juga berharap limitnya diperbesar lagi agar leluasa berbelanja saat traveling.

 

Enggak afdol kalau jalan-jalan enggak bawa kartu kredit deh.

 

 

Setidaknya lima poin di atas bisa jadi alasan kuat untuk merevisi limit kartu kredit yang ada sekarang. Beda kasus kalau alasannya demi memuaskan gaya hidup konsumtif. Ingat ya, kartu kredit itu mendukung banget untuk hidup konsumtif karena jadi instrumen pencipta utang.

 

Atau pun opsi memperbesar limit juga bukan satu-satunya jalan membuat kartu kredit jadi lebih sakti. Ada jalan lainnya kok yang aman, misalnya dengan menambah saldo kartu kredit dengan mentransfer sejumlah dana ke kartu kredit.

 

Misalnya, limit kartu kredit yang ada Rp 15 juta. Sementara kebutuhan transaksi bulanan mencapai Rp 18 juta per bulan. Nah, kita bisa mentransfer Rp 3 juta ke kartu kredit sehingga mencukup transaksi bulanan itu. Cuma perlu diperhatikan dulu apakah cara ini tetap juga dikenai denda overlimit. Kalau kena denda, ya sebaiknya minta limitnya diperbesar.