Apakah Batu Akik Merupakan Pilihan Investasi? Apa Bedanya dengan Reksa Dana?

Artikel ini dipersembahkan oleh mitra produk investasi kami Bareksa.com

Bareksa Logo

 

Bareksa.com – Di kolong jembatan Kalibata, di satu ruas trotoar Jalan Dewi Sartika, di belakang warung di Jalan Pancoran Timur Raya terlihat berbagai jenis batu akik digelar, sementara setiap 15 menit ada saja orang menghampiri untuk sekedar melihat-lihat atau menawar sambil mengkerut-kerutkan dahi.

 

Demam batu akik yang sudah berlangsung setahun lebih belum juga menunjukkan pelemahan intensitas di Jakarta maupun di kota-kota besar lainnya seperti Medan, Bandung, Surabaya.

 

Malahan sekarang banyak yang menganggap batu akik sebagai pilihan investasi. Apakah ini rasional?

 

Kita ingat belum terlalu lama — pertengahan 2000-an — Indonesia dilanda demam tanaman anthurium.

 

Banyak kisah orang-orang yang kaya mendadak karena anthurium. Mereka beli dan kumpulin tanaman anthurium di awal-awal demam anthurium dan jual disaat puncak musim dengan harga tiga, lima, bahkan sepuluh kali lipat.

 

Sekarang mari kita lihat apa bedanya antara reksa dana dan anthurium, atau reksa dana dan batu akik.

 

Reksa dana memiliki standard nilai acuan yang jelas, yang didasari oleh aset pendukungnya yang bisa berupa saham, obligasi, maupun deposito di perbankan.

 

Nilai reksa dana bergerak sesuai keadaan ekonomi, industri tertentu, keadaan moneter tertentu yang dapat diprediksi dengan logika maupun dengan analisa. Acuan pergerakan nilai reksa dana sangat transparan dan datanya tersedia di ruang publik — secara online di Bareksa.com maupun di koran-koran.

 

Sementara batu akik tidak ada standar acuan nilai, tidak transparan, dan bisa mendadak berubah tanpa didasari alasan atau sebab yang jelas.

 

Singkat kata: investasi di batu akik tidak bisa diukur risikonya seperti halnya reksa dana. 

 

“Kita harus bedakan antara barang koleksi dan investasi. Kalau ingin investasi di batu akik, mending bisnisnya saja sekalian. Jangan jatuh cinta pada barangnya. Lagipula kalau suka sekali dengan barangnya, lalu harganya naik tinggi, kita malah akan sayang untuk menjualnya,” ujar Ahmad Gozali, perencana keuangan dari Zelts Consulting, kepada Bareksa.com.

 

Menurut Ahmad Gozali, penulis buku “Habiskan Saja Gajimu”, minat terhadap batu akik sekarang ini masih tinggi tapi sudah tidak bertambah lagi.

 

Kurva Google trends menunjukkan bahwa pencarian frase kata “batu akik” mulai terlihat naik pada Januari 2014, dimana indeks frekuensi pencarian berada pada angka 3 poin, dari sebelumnya di angka 1 poin pada bulan yang sama tahun sebelumnya.

 

Angka indeks ini naik terus secara konsisten menjadi 7 poin di Juni 2014, 27 poin Desember 2014, dan 97 poin masing masing di bulan April dan Mei 2015.

 

“Disayangkan bahwa lebih banyak orang yang punya batu akik daripada reksda dana. Yang punya batu akik, perhitungan kasarnya berjumlah jutaan, diatas 5 juta, sementara reksa dana hanya 200 ribuan-an,” ujar Ahmad Gozali.

 

Sebuah batu akik hari ini bisa saja dijual seharga 500 ribu rupiah, besok bisa langsung amblas — beruntung bisa dinilai 50 ribu.

 

Masih segar dalam ingatan kita satu transaksi penjualan anthurium yang memegang rekor paling banyak diberitakan saat tahun 2000-an.

 

Seorang wakil rakyat dengan bangga membeli satu tanaman athurium, yang selain sangat indah rupanya juga sangat besar ukurannya, seharga 1 miliar rupiah. Beberapa bulan kemudian demam anthurium melandai dan berakhir, dan harga anthurium wakil rakyat ini tidak jauh dari 10 juta rupiah. Banyak sekali yang rugi karena anthurium.

 

Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang memakai batu akik Bacan Doko di jari tangan kirinya, tidak melihat batu akik sebagai pilihan investasi. Bacan Doko yang berasal dari Pulau Bacan di wilayah Maluku Utara, banyak dipercayai masyarakat dapat berubah warna dari waktu ke waktu.

 

“Kampung halaman saya, Pacitan, memiliki deposit batu akik yang tinggi. Bagi saya membeli batu akik dapat membantu pengrajin batu akik, membantu industri kecil,” ujar SBY di kediaman pribadinya di kawasan Cikeas, Bogor, kepada Bareksa.com.

 

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang tidak se-rasional SBY. Malahan di sebagian masyarakat, ketamakkan telah menyingkirkan rasional.

 

 

 

Baca Juga: 

Belajar Mengelola Keuangan dari Kim Kardashian

Haji Lulung dan Bahaya Investasi

SIMULASI REKSADANA: Seberapa Menguntungkan Investasi Reksadana Saham Syariah?