Apa Yang Musti Dicermati dalam Pinjaman dengan Jaminan, KPR Salah Satunya

Biasanya, saat ajukan kredit ke bank dalam jumlah yang besar, bakal diminta agunan atau jaminan. Agunan atau jaminan itu yang menjadi pegangan bank jika sewaktu-waktu proses pelunasan pinjaman itu bermasalah. Selain itu, nilai jaminan mesti lebih tinggi atau minimal sama dengan nilai uang yang dipinjam dari bank.

Dari situ bisa ditarik kesimpulan bila pinjaman dengan jaminan adalah fasilitas pinjaman dengan mengikatkan aset sebagai jaminan pelunasannya. Nah, bank akan bertindak selektif dalam menaksir jaminan tersebut.

Hasil penaksiran nilai jaminan itu yang jadi dasar bank memberi pinjaman dengan besaran sekitar 70-80 persen dari nilainya. Alhasil, proses pengajuan utang jenis ini sedikit lebih lama.

pinjaman dengan jaminan
Jaminan akan berpengaruh sama jumlah uang yang dipinjamkan bank kepada kamu (ilustrasi kredit multiguna/bankgaransi)

Kesannya ribet ya, padahal enggak kok. Persyaratan pengajuannya tak serumit yang diduga sebelumnya. Bahkan bisa disebut cukup mudah. Bank hanya menjalankan prinsip kehati-hatian saja dalam proses pencairan pinjaman.

Inilah alasan kenapa bank perlu mengenal dalam-dalam calon peminjam atau istilahnya debitur. Data-data calon debitur mesti dipegang bank. Data-data itu menjadi informasi bagi bank seputar karakteristik debitur. Mulai dari penghasilan, nilai jaminan, jenis pekerjaan, jumlah kekayaan, dan lain sebagainya.

Nah, contoh konkret pinjaman dengan jaminan adalah KPR (kredit pemilikan rumah). Jaminan yang diminta bank di KPR ini ya rumah yang akan dibeli. Plusnya, KPR ini jenis pinjaman dari bank di mana kita dibantu beli rumah tanpa harus menunggu semua dana terkumpul secara tunai. Lagi pula, rumah itu bisa kita langsung tinggali.

Sekarang ini hampir semua bank punya produk KPR. Masing-masing mengklaim sebagai produk yang terbaik dengan segudang kelebihan. Sejatinya, apa saja yang jadi ukuran buat kita dalam memilih KPR, agar dapat yang termurah? Simak di bawah ini ya.

Cermati SBDK (Suku Bunga Dasar Kredit)

Ketika berkunjung ke bank, pastinya akan melihat papan pengumuman berisi angka-angka yang tersusun rapi. Bisa jadi itu adalah papan informasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK). Kehadiran papan informasi itu di kantor bank merupakan perintah wajib Bank Indonesia. Informasi itu mencakup SBDK korporasi, ritel, dan kredit konsumsi seperti KPR. Informasi itu harus di-update secara berkala.

Apa itu SBDK?  SBDK adalah tingkat suku bunga pinjaman dasar bank yang memperhitungkan tiga komponen, yaitu harga pokok dana untuk kredit, biaya overhead (biaya operasional bank seperi gaji karyawan dan lain-lain) dan marjin keuntungan.

pinjaman dengan jaminan
Beda bank, beda juga suku bunganya. Oleh karena itu, semuanya harus dihitung sebelum menentukan mau ajuin kredit di bank mana (presentase/Tribun)

Besaran SBDK ini sama saja membuka ‘kartu’ bank dalam menentukan besaran bunga. Pendek kata, SBDK yang ditetapkan satu bank bisa berbeda dengan bank lain.

Lalu apa untungnya ada papan informasi SBDK buat kita?

1. Transparansi

Adanya SBDK ini jadi patokan bagi kita untuk membandingkan besaran SBDK antara satu bank dengan yang lain. Jadi kita punya bahan referensi yang valid sebelum menjatuhkan pilihan.

2. Alat ukur kemampuan finansial

SBDK dapat dimanfaatkan sebagai alat ukur kemampuan finansial. SBDK membuat kita leluasa memilih bank dengan SBDK yang menarik dan kompetitif.

3. Daya tarik

Pengumuman secara terbuka besaran SBDK menciptakan persaingan yang sehat antarbank. Dari situ, kita akan menuai hasilnya yang pasti lebih melirik bank yang menawarkan SBDK lebih rendah.

Besaran Suku bunga

Adalah Restu, pria berumur 34 tahun yang bekerja sebagai Asisten Direktur Sales & Marketing di perusahaan jasa pelayaran. Setelah memantau data-dataSBDK di beberapa bank, Restu akhirnya mantap mengambil pilihan di bank X. Besaran SBDK bank X itu sesuai banget dengan kapasitas keuangannya.

Sayang, harapannya kandas setelah bertemu dengan petugas bank. Ternyata data SBDK itu belum mencantumkan komponen premi risiko.

Bank Indonesia menyerahkan urusan premi risiko ini ke bank. Premi risiko sendiri mencerminkan penilaian bank terhadap prospek pelunasan kredit dengan mempertimbangkan jangka waktu dan usaha yang dibiayai.

Nah, inilah yang dilupakan cowok 34 tahun yang bekerja sebagai Asisten Menager Keuangan di perusahaan jasa pelayaran tersebut. Jadi, suku bunga yang ditetapkan bank X itu ujung-ujungnya lebih besar dibanding SBDK yang tertera.

Jika bank X itu menganggap Restu memiliki risiko yang lebih tinggi, maka suku bunga yang ditanggung Restu bakal lebih tinggi dari SBDK. Tapi tak tertutup kemungkinan ada bank yang membebankan bunga lebih kecil dari SBDK.

Artinya, suku bunga KPR itu dihitung dari SBDK plus premi risiko yang sepenuhnya menjadi kebijakan bank. Besarnya risiko tiap calon debitur berbeda dan tergantung penilaian bank. Penilaian bank berarti bank mempertimbangkan kondisi keuangan debitor, prospek pelunasan kredit dan jangka waktu kredit. Biasanya, calon debitur tak bakal dapat penjelasan kenapa dikenai penambahan premi sekian persen.

Baca aturan main penerapan bunga dan biaya lain

Jangan buru-buru terima tawaran KPR dengan suku bunga fixed yang rendah di awal tahun pertama. Kemudian kebijakan berubah di tahun berikutnya dengan mengikuti mekanisme suku bunga floating yang bisa jadi lebih tinggi dari pasaran.

pinjaman dengan jaminan
Yuk mari dibangun rumahnya (bangun rumah/Detik)

Ada baiknya sebelum akad kredit terjadi, pahami dengan seksama aturan main penerapan bunga. Sebenarnya tak masalah diterapkan suku bunga floating asal itu masih dalam taraf kewajaran. Syukur-syukur bank bersedia menerapkan suku bunga maksimal sekian persen dari BI Rate.

Selain itu, baca juga aturan main pengenaan biaya lainnya dalam akad kredit. Bagaimana pun, biaya lain itu termasuk komponen keuntungan bank. Misalnya saja biaya provisi, administrasi, denda keterlambatan cicilan, take over, dan lain sebagainya.

Mengetahui sejak awal besaran biaya tersebut bisa menjadi pertimbangan ke depannya apakah perlu suatu saat mengalihkan kredit ke bank lain atau melunasi kredit lebih cepat dari rencana semula.

So, gimana sudah bisa memantau papan informasi SBDK di bank-bank? Sangat dianjurkan untuk membuat rangking bank dari SBDK terendah sampai yang tertinggi. Di samping itu, jangan lupa perhatikan juga premi risiko karena ini turut mempengaruhi besaran bunga pinjaman. Data inilah yang jadi bekal dalam menentukan besaran pinjaman yang tepat dan sesuai kapasitas keuangan. Jadi, bisa percaya diri kan mengajukan pinjaman!

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Mau Ngajuin KPR? Pikirin Dulu 6 Hal Ini]

[Baca: Hore Pengajuan KPR Disetujui, Nih PR Kamu Selanjutnya]

[Baca: Biar Ga Salah Pilih KPR, Kenalan Dulu Yuk Sama Jenis-Jenis Bunganya]