Apa Pantas Suami Mengatur Keuangan Keluarga?

Mengatur keuangan keluarga adalah kewajiban ketika kita sudah berumah tangga. Tapi ada kecenderungan suami dianggap kurang cocok sebagai manajer keuangan keluarga. Istrilah yang lebih pas karena biasanya lebih teliti dan telaten mengurus uang.

Padahal pengaturan finansial dalam keluarga bukanlah perkara gender atau jenis kelamin. Baik suami maupun istri bisa saja menjadi penanggung jawab urusan vital ini.

Dalam keluarga, intinya adalah kerja sama dan pembagian tugas. Bila tugas suami mengatur keuangan keluarga, itu bukanlah masalah.

Berikut ini beberapa situasi saat kita seharusnya mempertimbangkan suami yang jadi menteri keuangan rumah tangga:

1. Aktivitas istri lebih padat

Dalam keluarga dengan suami dan istri bekerja, pembagian peran bisa lebih cair. Jadi juru masak pun bisa dilakoni suami.

suami mengatur keuangan keluarga
Kalau istri sudah sangat multitask, bolehlah suami yang atur urusan keuangan (suami/Lovespell)

Terlebih bila aktivitas istri lebih padat. Misalnya pekerjaan istri memaksanya sering pergi ke luar daerah. Bahkan sering menginap hingga dua-tiga hari.

Suami bisa mengambil peran manajer keuangan karena lebih sering di rumah, sehingga lebih dekat dengan keperluan riil yang memerlukan biaya. Aktivitas istri yang lebih padat juga bisa membuat waktu dan pikirannya gak cukup tersisa untuk memegang 100 persen keuangan keluarga.

2. Suami dianggap lebih cakap mengelola keuangan

Mengatur keuangan keluarga bukanlah perkara sepele. Diperlukan keahlian yang mumpuni agar bahtera rumah tangga gak goyah gara-gara masalah finansial.

Makanya, ketika suami dianggap lebih cakap mengelola keuangan, gak ada salahnya memberikan tugas manajer keuangan kepadanya. Misalnya suami memang lulusan manajemen yang sudah akrab dengan hitung-hitungan bujet.

suami mengatur keuangan keluarga
Kalau memang suami lebih jago dalam urusan ini ya kenapa tidak (Duit receh/oclym)

Atau istri lebih impulsif dalam soal keuangan. Bisa berbahaya kalau istri pegang uang dan ternyata hobi belanja tanpa rencana.

3. Sepakat ada transparansi

Sebenarnya entah suami entah istri yang mengatur keuangan, transparansi itu penting. Tapi dalam soal suami sebagai pengelola keuangan, transparansi perlu lebih ditekankan.

Suami jangan sampai menjadi diktator yang semena-mena dalam mengatur pengeluaran. Misalnya royal kalau untuk kebutuhan sendiri tapi pelit ketika istri atau anak lagi butuh.

Yang lebih parah, suami jadi merasa berkuasa dengan sering mengalokasikan bujet khusus tanpa konsultasi dengan istri. Transparansi dibutuhkan agar rumah tangga harmonis senantiasa.

4. Suami tetap pegang tugas lain

Walau sudah menjabat manajer keuangan dalam keluarga, suami bukan lantas bebas dari tugas lainnya. Namanya suami, ada hal-hal yang umumnya lebih membutuhkan sentuhan tangannya ketimbang sang istri.

suami mengatur keuangan keluarga
Walau suami atur keuangan keluarga, urusan lain yang juga jadi kewajiban suami (masak bareng/fimela)

Contohnya, memperbaiki genteng rumah yang bocor. Pemandangan istri naik ke atap dan mengoleskan pasta buat nambal genteng yang bolong amat gak lazim.

Atau  ikut ronda lingkungan di malam hari. Pernah lihat seorang ibu berada di tengah bapak-bapak bersarung yang main catur di pos ronda?

Untuk urusan yang lebih penting juga begitu. Misalnya dalam hal pendidikan anak. Suami tetap berperan sebagai ayah yang bertugas mendidik sang anak hingga mentas.

Entah oleh suami ataupun istri, keuangan dalam rumah tangga mesti diatur. Jangan sampai bahtera yang dibangun berjalan autopilot alias tanpa kontrol tangan kita sendiri.

Kalau begitu caranya, bisa-bisa ada karang dan kita gak melihatnya. Bahtera rumah tangga yang diniatkan untuk berlayar selamanya pun bisa karam seketika kayak Kapal Titanic.

Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, masalah ekonomi menjadi salah satu faktor terbesar perceraian. Bila main-main dalam hal ini, siap-siap menanggung risikonya.

Keuangan sejatinya penting diatur oleh semua orang, bukan hanya yang sudah menikah. Buat lajang, justru pengaturan ini diperlukan sebagai bekal untuk membina rumah tangga kelak.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Ini 5 Hal yang Sebenarnya Bikin Keuangan Kacau tapi Gak Kita Akui]

[Baca: Jadi Ibu Rumah Tangga Wajib Paham 6 Hal Ini Buat Bantu Suami]

[Baca: Kalau Sudah Lakukan 5 Hal Ini, Tandanya Kamu Sudah Melakukan Perencanaan Keuangan]

[Baca: Buat Para Wanita Karir, Ini 5 Pilihan Karir Bergaji Tinggi yang Bisa Dilirik]