Apa Benar Kamu Workaholic? Jangan-Jangan Emang Gak Bisa Ngatur Waktu Aja

Merasa pekerjaan kantor mengambil alih hidupmu? Kemungkinannya ada dua nih, antara kamu workaholic alias gila kerja atau emang gak bisa ngatur waktu aja.

Walaupun mirip, dua hal ini berbeda lho. Workaholic memang cenderung gak bisa santai dan pengin kerja terus sampai kadang pacar pun lupa dipikirin.

Tapi itu dilakukan karena memang dia suka bekerja dan merasa ada yang hilang dalam hidupnya jika gak bekerja. Waktu kerja orang-orang kayak gini biasanya bisa sampai 45 jam seminggu, bahkan lebih!

Nah, kalau yang gak bisa ngatur waktu, biasanya terpaksa bekerja di luar jam kerja karena tidak bisa memanfaatkan waktu kerjanya dengan baik. Kamu termasuk ke dalam golongan yang mana nih? Yuk dicari tahu!

Kamu workaholic kalau:

1. Waktu kerja seminggu lebih dari 40 jam. Jam kerja normal adalah delapan jam sehari atau 40 jam seminggu. Adapun total waktu di kantor biasanya sembilan jam (8 jam kerja + 1 jam istirahat).

gak bisa ngatur waktu
Ngapain coba kalau akhirnya malah tidur di kantor hehehe (Tidur Di Meja Kerja / hipwee)

Nah, workaholic pasti kerja lebih dari waktu yang dialokasikan itu. Bahkan saat orang lain baru buka nasi bungkus buat sarapan pas jam kerja, kamu udah serius ngutak-atik laporan kerja.

2. Menempatkan pekerjaan di atas segalanya. Ketika ada pilihan kerja atau liburan, kamu pilih kerja. Kerja atau kumpul keluarga? Pilih kerja. Kerja atau ketemu teman-teman? Kerja.

Pokoknya kerja adalah hal utama. Bahkan seorang workaholic bisa gak tidur seharian hanya untuk kerja. Makanya gak sedikit workaholic yang malah jadi insomnia.

3. Memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal-hal seputar pekerjaan. Orang lain ke mal saat weekend, kamu malah sibuk di depan komputer buat kerja.

Bahkan saat sedang kumpul keluarga pun masih saja memikirkan pekerjaan. Sisa cuti pun menumpuk tiap tahun sampai bisa dipakai buat cuti besar.

4. Selalu mencari alasan untuk mendapat beban kerja lebih. Pekerjaan utama sudah selesai, tapi kamu masih mencari-cari “pekerjaan” yang lain.

gak bisa ngatur waktu
Ciyee sok sibuk banget nih mbaksis hehehe (Wanita Karir / blogeimie)

Misalnya melihat teman masih sibuk dengan pekerjaannya, menawarkan diri buat membantu. Atau langsung tanpa basa-basi minta tugas baru dari atasan. Inisiatif ini disukai atasan, asalkan pekerjaan dituntaskan dengan baik.

Kamu gak bisa ngatur waktu kalau:

1. Jam kerja gak bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Pas jam kerja malah sibuk main game, ngegosip, atau nonton. Akibatnya, harus lembur tiap malam atau kerja pas weekend untuk menyelesaikan pekerjaan rutin yang sudah jadi kewajiban.

2. Merasa pekerjaan gak selesai-selesai. Karena gak bisa maksimalin waktu, wajar kalau kamu ngerasa kerjaan yang gitu-gitu aja jadi lama selesainya.

3. Sering ngeluh karena kerjaan banyak. Beda sama orang workaholic yang sering gak sadar kalau beban kerjanya berlebihan, orang yang gak bisa ngatur waktu justru merasa kalau kerjaannya selalu lebih banyak dari yang seharusnya.

Ini disebabkan oleh buruknya manajemen waktu mereka, sehingga pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan saat jam kerja terpaksa dikerjakan di luar waktu tersebut.

Lebih baik yang mana?

Bila dilihat sekilas, tampaknya kondisi seorang workaholic lebih baik. Secara karier, mungkin iya. Pasti kariernya melesat karena rajin, bahkan gila kerja.

Namun secara sosial dan kesehatan, orang workaholic amatlah rentan. Kehidupan sosialnya pasti terganggu karena banyak waktunya tersita untuk kerja. Jangan-jangan rumah tetangga kebakaran pun gak tahu karena sibuk kerja.

gak bisa ngatur waktu
Aduh kok marahan mulu sih, kapan mesranya nih masbro, mbaksis hehehe (Konflik Hubungan / vemale)

Kesehatannya juga amat berisiko karena tubuh yang mestinya istirahat dipaksa bekerja terus. Tinggal tunggu drop saja.

Adapun orang yang gak bisa mengatur waktu berisiko gagal dalam karier. Sebab, pekerjaan yang selesai dan memuaskan adalah kunci untuk level karier lebih tinggi.

Bila sering terlambat menyelesaikan pekerjaan, bye bye deh promosi jabatan. Gaji naik pun sulit terealisasi kalau kondisi kamu begitu.

Sebaiknya, demi karier dan kehidupan sosial baik, cari jalan tengah dengan kecenderungan ke arah workaholic. Rajinlah bekerja, tapi jangan lupa berpesta.

Kerja bagus buat kesehatan finansial, sementara hura-hura sangat bermanfaat untuk kondisi mental dan sosial. Seperti kata ungkapan lama: work hard, play hard. Bekerjalah dengan keras, tapi jangan lupa bermain.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Insomnia atau Susah Tidur? Begini 6 Cara Mengatasinya]

[Baca: Jadi Pekerja yang Smart, Bukan yang Semata Kerja Keras Tanpa Hasil]

[Baca: Ternyata Ini Dampak Buruk Jadi Workaholic Buat Keuangan]