Anak Selalu Juara Kelas? Gak Jaminan Dia Pasti Sukses Lho

Prestasi di sekolah gak selalu seiring sejalan dengan kesuksesan di dunia kerja. Mau bukti? Simak kisah hidup Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Joko Widodo.

Ijazah terakhirnya cuma tingkat SMP, lho. Lalu ada Susan Bachtiar, artis yang belakangan jadi pengajar di taman kanak-kanak. Dia pernah gak naik kelas, tapi bisa sesukses sekarang.

Dari mancanegara, ada nama-nama beken di bidang teknologi. Di antaranya Steve Jobs, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. Mereka gak pernah nerima ijazah sarjana meski pernah kuliah.

Jadi, jika anak selalu juara kelas, jangan kelewat bangga dulu. Itu bukan jaminan dia pasti sukses kelak. Begitu juga sebaliknya. Kenapa bisa begitu? Berikut ini penjelasannya.

1. Karakternya bagaimana?

Anak yang selalu dapet ranking 1 sejak kelas 1 SD sudah pasti punya tingkat kepintaran di atas rata-rata. Tapi cerdas saja tidak cukup untuk bisa sukses.

selalu juara kelas
Ranking 1 pasti punya kepintaran di atas rata-rata, tapi apa betul karakternya juga kuat?(pendidikan anak/kompasiana)

Karakter juga mempengaruhi kesuksesan seseorang di dunia kerja. Kepintaran biasa saja tapi selalu bekerja keras dan pandai berkomunikasi, misalnya. Sangat mungkin kesuksesan lebih cepat ia raih ketimbang orang yang pintar namun sulit menjalin relasi.

Tentunya lebih bagus bila kepintaran diimbangi dengan karakter yang kuat dan mumpuni. Jadi, tugas kita sebagai orangtua untuk menyeimbangkan keduanya dengan pendidikan formal dan informal.

2. Pintar belum tentu cerdas

Sambungan dari poin sebelumnya, kecerdasan lebih dibutuhkan ketimbang kepintaran. Apa beda pintar dan cerdas?

Secara umum, orang pintar didefinisikan sebagai orang yang berilmu. Kepintaran itu didapatkan dari pembelajaran teori di ruang kelas. Ukuran kepintaran adalah rapor yang bagus.

Sedangkan orang yang cerdas cenderung lebih menguasai persoalan berkat pengalaman dan praktik secara informal. Kecerdasan tidak kaku mengacu pada teori-teori yang diajarkan di ruang kelas.

selalu juara kelas
Pintar belum tentu cerdas lho (cerdas/Wookmark)

Teori memang penting, tapi sering kali kenyataan di lapangan membutuhkan lebih dari itu. Teori mesti dikembangkan, dikurangi, atau ditambahi sendiri agar bisa digunakan di lapangan. Orang cerdas punya kemampuan untuk itu.

3. Stres di kemudian hari

Bila tak diantisipasi, gelar juara kelas yang diraih anak tiap semester bisa berbuah stres di kemudian hari. Tuntutan agar anak jadi juara biasanya disertai dengan rutinitas les-les setelah jam sekolah.

Rutinitas ini bisa membuat otak terforsir melakukan pekerjaan berat tiap hari. Pada suatu saat, titik stres akan tercapai dan membuat sang anak jadi tertekan hebat.

Akibatnya, bukan kesuksesan di dunia kerja yang didapatkan. Melainkan perilaku yang mencerminkan adanya tekanan tersebut, misalnya menjadi agresif dan emosional, sehingga gak tercipta lingkungan kerja yang mendukung.

4. Kurang kreatif

Dalam artikel studi yang dimuat di jurnal kampus Harvard, kreativitas punya peran penting dalam kepemimpinan seseorang. Orang yang kreatif umumnya lebih sukses sebagai pemimpin yang mengayomi.

Sayangnya, kreativitas lebih dekat ke orang yang cerdas ketimbang yang pintar. Namun bukan berarti orang yang pintar pasti gak kreatif.

Ketika menjadi pemimpin, orang yang sekadar pintar susah menjadi leader. Pol mentok hanya menjadi manajer.

selalu juara kelas
Gak kreatif ya kariernya bisa mentok. Masa iya mau jadi manager seumur hidup (anak / Femina)

Apa bedanya leader dan manajer? Leader adalah pemimpin. Ia mampu memberikan inspirasi bagi orang lain agar mengikuti jejaknya.

Dalam memimpin, ia sekaligus menjadi manajer alias pengelola. Karena itu, ia punya kemampuan untuk mengeluarkan ide sekaligus membuat orang mengikuti dan mempraktikkan ide tersebut sesuai dengan tuntunannya.

Sedangkan manajer hanya bertugas sebagai pengelola prosedur yang telah digariskan. Artinya, ia tinggal mengawasi orang lain bekerja sesuai dengan prosedur tersebut, tanpa terobosan.

Buat moms and dads, anak kita seyogianya memang pintar di sekolah. Gelar juara kelas sebisa mungkin didapat. Namun ingat, prestasi itu saja belum cukup untuk menjamin kesuksesannya kelak.

Poin-poin di atas mengindikasikan bahwa pelajaran di sekolah saja tidaklah cukup. Kita selaku orangtua perlu lebih terlibat dalam perkembangan buah hati di rumah.

Sentuhan atau perhatian itu bisa membuat kita memahami kebutuhan anak di luar sekolah yang dapat lebih memastikan kesuksesannya kelak. Pastinya kita gak mau anak sekadar jadi juara kelas, tapi juga juara di dunia kerja.

 

 

Yang terkait artikel ini:

[Baca: Mengajari Anak Mengelola Keuangan Bisa Sambil Belanja Bulanan Loh! Begini Caranya]

[Baca: Jangan Cuma Bisa Merintah, Gini Caranya Jadi Atasan yang Baik dan Menginspirasi]

[Baca: Begitu Si Kecil Lahir, Ini Hal-Hal yang Perlu Kamu Lakukan]