Anak Merengek Minta Mainan Mahal, Kasih Gak Ya?

Salah satu momen yang bikin pusing bagi orangtua adalah saat anak merengek-rengek minta mainan. Apalagi lebih dari itu, saat anak merengek minta mainan mahal.

Ketika tengah berjalan-jalan atau makan di mal, misalnya. Melihat ada Lego terbaru atau boneka Disney yang lucu, anak bakal kepincut.

Harga satu mainan bisa lebih dari bujet makan sebulan. Bila memang ada rencana untuk membelikan sih oke-oke saja. Tapi bila bujet tak ada, akan berat untuk mengeluarkan dana meski sebenarnya punya.

Contoh lainnya, saat menjelang ulang tahun anak. Anak yang sudah beranjak besar, kira-kira usia TK akhir atau awal SD, kerap meminta hadiah ulang tahun sejak jauh hari.

Bagaimana bila sang buah hati merengek minta mainan mahal tanpa mau tahu? Sebagai orangtua, wajar jika mengalami dilema dalam situasi ini. Apakah keinginan anak mesti dikabulkan atau tidak?

Untuk menjawab pertanyaan itu, jawabannya sebenarnya simpel saja. Tak harus langsung dikabulkan meski ada dana, meski anak terus menangis bahkan hingga guling-guling tak keruan.

Ada hal penting yang sebaiknya dicermati sebelum membuat keputusan, yakni lihat seberapa mahal mainan itu. Dari situ, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi:

1. Tak Masuk Bujet

Jika setelah dihitung-hitung tak masuk bujet, orangtua terpaksa mesti putar otak. Misalnya anak merengek minta mainan seharga Rp 1 juta, sementara bujet yang tersedia cuma Rp 500 ribu. Dua hal ini bisa coba dilakukan agar rengekan anak mereda.

– Cari alternatif

mainan-mahal
Percaya atau tidak harga Lego Taj Mahal ini bisa buat bayar DP sepeda motor? (pinterest)

Alternatif berupa mainan yang setipe atau sejenis bisa coba ditawarkan kepada anak. Bila anak meminta Lego, cari yang harganya separuh tapi merek lain.

Atau bisa juga tetap membelikan Lego, tapi yang harganya masuk bujet. Misalnya minta satu set Lego, katakan kepada anak untuk beli satu per satu dulu.

Jika sang anak kukuh menolak, akali dengan memberikan dua mainan tapi tetap dengan harga yang masuk bujet. Intinya adalah berusaha memberikan mainan, namun dipaskan dengan kondisi finansial.

– Minta bantuan anak

Kalau anak sudah cukup umur untuk mendapat uang jajan, cara ini bisa digunakan. Mintalah anak ikut membantu dengan cara menabung uang jajan.

Umpamanya uang saku anak Rp 5.000 per hari, potong jadi Rp 3.000. Sisa Rp 2.000 dimasukkan tabungan untuk beli mainan.

Lewat cara ini, orangtua bisa sekaligus mengajari anak menabung. Kelak, saat dana sudah cukup, beri tahu mereka untuk beli mainan dari uang tabungan itu. Pasti akan tumbuh kebanggaan sendiri.

 

mainan-mahal
Belikan mainan sekaligus ajari anak nabung (pinterest)

[Baca: 4 Kebiasaan Anak yang Harus Diterapkan Sejak Dini Supaya Sukses Keuangan dan Karier]

2. Masih Masuk Bujet

Bila ternyata masih bisa dijejalkan ke dalam bujet, permintaan anak lebih mudah dipertimbangkan. Jika mepet, mungkin ada pos pengeluaran yang bisa dikurangi, misalnya buat rekreasi atau jajan makan di luar.

Tapi bukan berarti langsung beli saja. Demi sang anak, terapkan syarat setelah dan/atau sebelum beli mainan.

Hal ini berguna untuk menanamkan pengertian bahwa butuh usaha untuk mendapatkan sesuatu. Dengan begitu, anak pun akan lebih menghargai mainan mahal yang didapatkan.

[Baca: Ini 15 Cara Mudah Mendapatkan Duit Tambahan untuk Anak SMA]

– Sebelum beli

mainan-mahal
Adu keras dengan anak bukan pilihan, harus tenang menghadapi rengekan anak (txsource.com)

Syarat yang bisa diberlakukan sebelum beli adalah yang bersifat sekali dilakukan. Misalnya merampungkan bacaan buku tertentu dan menceritakan kembali apa yang dibaca.

Atau membantu pekerjaan orangtua jika ada. Contohnya orangtua punya usaha katering dan saat itu butuh tenaga untuk melipat dus. Anak bisa diminta bantu sekalian mengenal usaha tersebut.

Hal-hal yang jadi syarat itu hanya dilakukan sekali. Setelah selesai, sang anak barulah mendapat upah berupa mainan yang dikehendaki.

– Setelah beli

Kebalikan dari poin di atas, syarat ini bersifat berkelanjutan. Artinya, mainan mahal diberikan jika ada janji serta komitmen sang anak untuk mengerjakan syarat yang diterapkan.

Misalnya sebelumnya anak tak pernah mau merapikan kamar tidur sendiri. Orangtua bisa menjadikannya syarat, yakni setelah mainan terbeli, sang buah hati harus rapi-rapi sendiri tiap hari.

Cari kebiasaan anak yang kurang baik sebagai bahan syarat. Ide selain rapi-rapi, antara lain bisa bangun pagi, mau tidur siang, atau harus tidur sebelum pukul 21.00.

Anak yang merengek minta mainan mahal kudu ditenangkan. Cara utamanya jelas membelikannya mainan tersebut.

Tapi bujet bisa menjadi penghalang. Jikapun ada bujet, bukan lantas langsung asal gesek aja. Momen ini bisa dimanfaatkan sekaligus untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada sang anak.

[Baca: 5 Rekomendasi Tabungan Anak Agar Masa Depan Terjamin]