7 Pelanggaran Lalu Lintas Ini Sekarang Bakal Gampang Tertangkap CCTV

Pernah kena tilang di jalan? Selain waktu dan tenaga tersita, duit pun melayang karena kena denda.

Tilang alias bukti pelanggaran lalu lintas memang jadi momok buat pengendara mobil dan motor. Sekali saja ketahuan melakukan pelanggaran lalu lintas, pasti efeknya nyebar ke mana-mana.

Sebetulnya gampang caranya biar bisa menghindari tilang: disiplin berlalu lintas. Pakai kelengkapan berkendara, sediakan surat-surat terkait, dan patuhi aturan lalu lintas. Pasti gak bakal kena tilang.

Masalahnya, kadang situasi membuat kita melakukan pelanggaran lalu lintas. Misalnya habis kena macet, terus buru-buru biar gak telat. Akhirnya masuk jalur bus Transjakarta atau melanggar lampu merah.

Dulu mungkin bisa melenggang bebas ketika gak ada polisi yang berjaga. Tapi sekarang zamannya udah beda.

Di sejumlah kota besar, sudah ada CCTV yang terhubung dengan kantor polisi setempat. Bila ada pengendara yang melanggar lalu lintas, bisa kena tegur. Bahkan, tanpa tunggu waktu lama, bakal datang deh surat tilang.

Kok bisa? Ternyata, CCTV di jalan itu digunakan untuk menangkap pengendara yang melanggar dan gambarnya dijadikan bukti tilang.

Makanya, kini kita gak bisa lagi asal tabrak aturan mentang-mentang gak ada polisi yang berjaga. Namun ya itu tadi. Kadang kita lengah dan akhirnya melakukan pelanggaran.

Apa saja pelanggaran lalu lintas yang sering dilakukan? Berikut ini daftarnya.

1. Main HP sambil nyetir

pelanggaran lalu lintas
Main HP jangan pas nyetir ya (main HP/idnews)

Baik mobil maupun motor, pengendaranya sama-sama sering kepergok menggunakan handphone sambil nyetir. Padahal ini berbahaya.

Pengendara mobil terutama ya. Karena merasa di dalam kabin tertutup dengan kaca kiri-kanan gelap, sopir asyik main hape sambil nyetir. Padahal kaca depan masih bisa tersorot CCTV lho. Siap-siap saja disuruh bayar tilang dengan bukti foto dari CCTV itu.

Adapun pengendara motor yang rentan kena tilang akibat main hape adalah pengojek online. Lihat saja di jalan-jalan. Mata mereka sulit lepas dari hape, bahkan saat sedang melaju di jalan.

2. Gak pakai seatbelt

pelanggaran lalu lintas
Gak pake seatbelt? Gak sayang sama badan ya? (seatbelt/ayo selamat)

Jelas, pengendara mobil harus pakai seatbelt alias sabuk pengaman. Jarang sih sopir lupa pakai seatbelt. Tapi, penumpang di kabin depan gak jarang jadi penyebab tilang. Sebab, ia lupa memakai sabuk itu.

Dengan teknologi tilang via CCTV, kudu lebih waspada. Pastikan seatbelt terpasang semua demi keamanan jiwa, juga keuangan. Lumayan kalau kena denda bisa sampai Rp 500 ribu lho.

[Baca: Pahami Tata Tertib Berlalu Lintas Ini Dulu Kalau Ogah Rugi Kena Denda]

3. Gak pakai helm

pelanggaran lalu lintas
Kalau dia gak pake helm mungkin gak ketilang kali ya (gak pake helm/Viva)

Kasus pelanggaran lalu lintas ini mirip dengan soal seatbelt. Bedanya, pengendara motorlah yang terancam kena tilang.

Helm wajib dipakai sopir dan pembonceng. Seringnya orang gak bawa helm karena merasa tujuan yang hendak didatangi dekat.

Entah jauh entah dekat, helm harus dikenakan. Termasuk anak-anak lho. Sudah banyak kok helm buat anak yang kiyut-kiyut menggemaskan. Asal bukan anaknya aja yang nyetir ya.

[Baca: Jangan Ngeyel! Ini 5 Alasan Melarang Anak yang Masih di Bawah Umur untuk Mengemudi]

4. Ambil hak pejalan kaki

pelanggaran lalu lintas
Mau nabrak orang dengan jalan di trotoar? (naik motor di trotoar/terbit)

Yang sering terjadi adalah motor naik ke trotoar untuk menghindari macet. Betul, perjalanan bisa lebih cepat.

Tapi jangan protes kalau disuruh cepat-cepat bayar dendanya. Trotoar adalah hak pejalan kaki, pengguna kendaraan gak boleh lewat sana.

5. Nyalip atau belok gak pakai sen

pelanggaran lalu lintas
Biarkan pengendara lain tahu kamu mau belok ke mana. Jangan hanya kamu dan Tuhan saja yang tahu (nyalip/satu jam)

Dalam bahasa Jawa, khusunya Jogja, ada istilah pemotor “mak kluwer”. Pemotor yang mendapat julukan itu adalah mereka yang suka belok tiba-tiba tanpa menyalaan lampu sen atau retting. Ini berbahaya sekali buat diri sendiri dan orang lain.

Hal lainnya adalah asal salip kendaraan di depan. Sudah tanpa lampu sen, lewatnya kiri lagi. Sudah, siap-siap dicekrek oleh polisi berkat rekaman CCTV.

6. Nerobos lampu merah

pelanggaran lalu lintas
Lampu merah ya jangan diterobos dong (lampu merah/Satu jam)

Merasa gak ada polisi berjaga, lampu merah diterabas saja. Gak tahu dia sekarang polisi bisa mantau lewat CCTV.

Biasanya pelanggaran lalu lintas ini terjadi di malam hingga dinihari. Sebab memang polisi biasanya udah gak ngepos di jalan saat itu.

7. Melanggar rambu-rambu

pelanggaran lalu lintas
Kena tilang? Sukurin (tilang/brilio)

Buanyak rambu di jalan yang “diperkosa” pengguna jalan karena gak ada polisi atau polisi kurang tegas.

Ada rambu P coret, eh, masih banyak yang parkir di sana. Ada huruf S besar, angkot nekat ngetem di lokasi larangan itu. Dilarang putar balik, tetap saja melengos biar lebih cepat.

Ada ungkapan, “Peraturan dibuat untuk dilanggar.” Silakan kalau mau percaya itu. Tapi siap-siap terima konsekuensinya.

Di era digital seperti sekarang ini, pengawasan dan penegakan peraturan jadi lebih gampang. Termasuk yang dilakukan kepolisian dengan langkah tilang lewat CCTV.

Bila nekat melakukan pelanggaran lalu lintas, konsekuensinya adalah bayar denda. Apa gak sayang? Daripada buat bayar denda, mending buat makan. Atau malah buat modal usaha, bisa balik lagi kan uangnya?

[Baca: Modal Usaha Kurang? Begini Caranya Dapat Dana Tambahan]