7 Jurus Menghemat Uang di Musim Hujan yang Perlu Kamu Pahami

Tanpa disadari, musim hujan ternyata bikin tekor lho. Bakal ada beberapa pengeluaran tak terduga yang bisa muncul saat ini.

Alhasil, tanpa bujeting dan pengelolaan keuangan yang tepat, bukan bocor halus saja yang bakal kamu alami, melainkan kebobolan. Kalau sudah kebobolan, maka PR kamu ya mau gak mau kamu harus mengembalikan kondisi keuangan yang sudah berantakan dalam waktu lama.

Gak ada jaminan juga kalau keuanganmu bakal pulih dalam waktu sebulan. Itu sebabnya, jangan cuek saja ya di musim hujan.

Pengin tahu soal gimana cara menyiasati agar kantong gak jebol di musim hujan? Lakukan saja tujuh hal ini.

1. Selalu siap sedia dengan perlengkapan hujan

Harus siap sedia payung sebelum hujan turun (Pixabay).

Bukan cuma sedia payung sebelum hujan, sedia jas hujan juga tentunya buat yang sering naik motor ketika ke kantor. Jangan sampai satu hari kamu lupa bawa perlengkapan yang satu ini ya.

Ketika kamu lupa dan turun hujan, maka mau gak mau kamu pun harus membeli peralatan itu jika memang dibutuhkan. Otomatis keluar duit gak penting deh.

Barang yang semestinya bisa dibawa dari rumah, lebih baik dipersiapkan saja sebelum berangkat.

2. Jaga kesehatan, tingkatkan imunitas tubuh

Saat musim hujan tiba, ada baiknya tetap menjaga kesehatan dengan olahraga teratur (Pixabay).

Namanya juga musim hujan, wajar saja jika seseorang akhirnya jatuh sakit karena pergantian cuaca. Bisa dibilang, membeli suplemen berupa multivitamin lebih murah ketimbang membayar biaya pengobatan di rumah sakit buat yang gak punya asuransi.

Beberapa penyakit yang sering menyerang di musim hujan antara lain adalah flu, diare, tipes, DBD, hingga malaria. Ternyata gak sedikit ya, dan malaria lebih sering menyerang mereka yang tinggal di Papua.

Bekerja dalam kondisi sakit juga tentunya gak enak. Semua hasil dari pekerjaanmu dijamin gak akan bisa maksimal.

Itulah sebabnya gak sedikit yang bilang kalau kesehatan merupakan investasi yang berharga. Karena ketika kamu jatuh sakit, mau apa-apa tentu jadi serba susah bukan?

Satu lagi nih, buat kamu yang merupakan perokok aktif, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk berhenti ngerokok. Mengapa demikian?

Tentu saja, konsumsi rokok bisa naik ketika musim ini tiba. Coba deh perhatikan, hujan-hujan enaknya ya ngerokok sambil ngopi kan ketika break di kantor? Tapi bukan kesehatan yang terganggu ketika kamu merokok, melainkan juga kantong.

Apa kamu rela nambah pengeluaran buat hal yang merusak kesehatanmu?

3. Berangkat kerja lebih awal

Agar tidak terjebak hujan, ada baiknya berangkat lebih awal (Shutterstock).

Mengapa harus berangkat kerja lebih awal di musim hujan? Tentu saja karena ketika hujan turun, lalu lintas berpotensi jadi macet. Kalau gak percaya silahkan coba sendiri.

Dan semua tentu tahu ketika macet, otomatis konsumsi BBM kendaraanmu juga makin besar. Bujet beli bensin pasti naik.

Ketika kamu berangkat pagi, lalu lintas tentunya lebih sepi. Walaupun hujan, tetap saja jumlah mobil yang berseliweran gak seperti ketika kamu berangkat jam 07.00 pagi.

Semakin cepat sampai kantor tentu semakin baik ketimbang mepet waktu masuk. Datang pertama di kantor juga bukan hal yang salah kok, CEO Apple Tim Cook juga seperti itu. Dia bahkan sudah datang sebelum OB datang.

Kamu juga bisa mencicil pekerjaan yang memang belum terselesaikan sebelumnya. Alhasil kerjamu jadi lebih efisien bukan?

4. Bawa bekal dari rumah

Bawa bekal dari rumah (Pixabay).

Poin ke-empat mungkin punya kaitan erat dengan yang nomor dua soal jaga kesehatan. Dan memang gak dipungkiri bahwa makanan dari rumah lebih sehat daripada yang dijual di jalanan atau restoran sekalipun. Tapi esensinya bawa bekal tentu bukan itu saja.

Tahu dong kalau di musim hujan tentunya nikmat banget jika kita jajan bakso, mie ayam, dan gorengan. Konsumsi akan makanan dan jajanan di pinggir jalan itu bisa meningkat di waktu yang sama.

Oleh karena itu, ketika kita membawa bekal. Otomatis hasrat buat makan atau ngemil lagi jadi lebih berkurang. Kamu pun gak bakal mau jajan lagi, kecuali memang hobi jajan atau sering lapar mata ketika melihat temanmu menyantap jajanan yang lezat itu.

5. Renovasi rumah

Renovasi rumah (Pixabay).

Mumpung masih awal-awal musim hujan, dan curahnya belum terlalu deras, maka gak ada salahnya untuk merenovasi rumah terutama di bagian-bagian yang rawan bocor. Tujuannya adalah agar ketika curah hujan tinggi, rumahmu gak rusak.

Ada beberapa bagian rumah yang memang bisa memicu kebocoran hingga banjir. Bagian rumah itu adalah atap, talang air, selokan, dan bagian yang rendah.

Ketika memang kerusakannya sudah parah, maka biaya perbaikan ke depanya juga makin besar.

Makanya, selagi kerusakannya belum parah ya perbaiki saja deh. Biaya perbaikannya juga gak gede-gede amat.

6. Kerja di rumah saja

Musim hujan tiba, saatnya bekerja dari rumah saja ya (Pixabay).

Buat yang di bekerja di perusahaan dengan kebijakan remote working (kerja di luar kantor), alangkah baiknya untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin ketika curah hujan lagi tinggi. Tapi jangan lantas malah kamu modus pura-pura kerja mentang-mentang gak dilihat bos.

Remote working tentu bisa menghemat biaya transportasi sehari-hari. Dan bisa menghindari segala bentuk kerugian yang dialami dalam mobilitas ketika hujan turun.

Akan tetapi, untuk bisa bekerja di rumah kamu harus punya koneksi internet yang mumpuni. Selain itu, godaan kerja di rumah juga cukup tinggi terutama buat kamu yang punya kebiasaan menunda pekerjaan.

7. Jangan terobos banjir

Jangan terobos banjir karena itu berbahaya (Pixabay).

Apapun kendaraan yang kamu gunakan, mobil atau motor, salah besar jika akhirnya kamu menerobos banjir di jalanan. Selain bisa menimbulkan kerusakan, gak semua asuransi sepakat untuk mengklaim kerugian yang disebabkan karena banjir.

Musim hujan memang bisa memicu banjir. Dan jika memang akses jalanan menuju rumah atau kantor dilanda banjir, cari jalan lain saja jangan dilewati. Kamu sendiri yang rugi kalau kendaraanmu rusak.

Itulah tujuh tips untuk menghemat keuangan di musim hujan ini. Gampang kan caranya, tapi gak mudah juga buat diimplementasikan kalau masih setengah-setengah. (Editor: Winda Destiana Putri).