6 Kisah Juara All England Ini Bisa Ngasih Pelajaran Soal Karier Lho

Semua atlet bulu tangkis tentu bermimpi bisa menjadi juara All England, mengingat kejuaraan ini adalah kejuaraan tertua dan paling prestisius di bidangnya. Tapi apakah mereka yang sempat jadi jawara di kejuaraan ini dijamin memiliki karier dan masa depan yang cemerlang?

Nah, cerita dari enam juara All England Indonesia sepanjang masa ini bisa mengingatkanmu tentang pentingnya meniti karier demi masa depan yang baik. Karena meskipun mereka sempat menikmati masa-masa jadi selebriti dan makmur, kenikmatan itu belum tentu bisa dirasakan di masa tua.

Sebagian besar dari jawara-jawara ini pun akhirnya memilih untuk berbisnis. Beberapa di antaranya ada yang sukses jadi bos besar, sementara itu ada yang jadi pelatih, tapi ada juga yang menghabiskan masa senja dengan mengandalkan uang tabungan semata.

Yuk mari kita simak cerita kehidupan dari enam juara All England dari Tanah air ini!

1. Tan Joe Hok

juara all england
Tan Joe Hok (Detik)

Tan Joe Hok alias Hendra Kartanegara merupakan jawara All England tahun 1959. Pria berusia 79 tahun yang mengalahkan almarhum Ferry Sonneville itu pernah dikabarkan mengalami gangguan kesehatan pada 2017 lalu.

Usai pensiun menjadi atlet Indonesia, Joe Hok dikabarkan menjadi pelatih bulu tangkis di Meksiko dan Hong Kong. Gak lama kemudian, pada 1982 dia bergabung sebagai pelatih di Persatuan Bulu Tangkis Djarum yang didirikan oleh keluarga Hartono.

[Baca: Jadi Orang Terkaya di Indonesia 2017, Ini 5 Fakta Soal Hartono Bersaudara]

Menurut wawancaranya dengan CNN pada 2015 lalu, pria ini menceritakan bagaimana dirinya berjuang dalam urusan bayar pajak rumah dan makan sehari-hari.

Konon kabarnya, sang legenda bulu tangkis Indonesia itu sudah berhenti berkarier sejak tahun 2000 silam. Dan saat ini dia hidup mengandalkan uang tabungan. Prestasi yang dia raih puluhan tahun yang lalu tampak gak berarti apapun buat masa senjanya.

2. Rudy Hartono

juara all england
Rudy Hartono (Tribunnews)

Rekor Rudy Hartono di All England memang belum terpecahkan. Hingga kini, delapan piala All England masih tersimpan dengan baik di rumahnya.

Sejak turun ke dunia bulu tangkis, Rudy memang cukup ambisius untuk merebut gelar juara tersebut. Dia pun berhasil menjadi juara berturut-turut sejak 1968 hingga 1974. Meskipun sempat kalah di tahun 1975, tapi dia berhasil meraih kembali gelar itu di tahun 1976.

Prestasi yang dia raih sejak usianya masih 18 tahun itu pun dibukukan di Guiness Book of World Records. Pria yang memiliki nama asli Nio Hap Liang ini juga dinobatkan sebagai peraih gelar juara All England termuda sepanjang sejarah.

Lantas seperti apa karier Rudy Hartono saat ini? Ternyata, karier Rudy setelah pensiun jadi atlet masih terbilang mulus. Sekarang dia masih menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Topindo Atlas Asia, distributor tunggal pelumas TOP 1 di Indonesia.

Tampaknya gak cuma karier di dunia bulu tangkis saja yang berjalan dengan mulus. Karier pria kelahiran 1949 ini sebagai bos besar di perusahaan juga lancar jaya.

[Baca: 6 Tanda Kamu Bakal Jadi Bos atau Naik Gaji dalam Waktu Dekat]

3. Liem Swie King

juara all england
Liem Swie King (Liputan 6)

“King Smash!” Itulah ungkapan yang seringkali kita dengar ketika seseorang menyebut nama pria asal Kudus kelahiran 1956 silam ini.

Liem Swie King memang terkenal dengan pukulan jumping smash-nya. Pada tahun 1978, tepatnya saat dia masih berusia 20 tahun, Liem Swie King berhasil menjadi juara All England usai mengalahkan Rudy Hartono di babak final. Dia pun berhasil mempertahankan gelar itu hingga 1979, dan merebut kembali di tahun 1981.

Usai mengundurkan diri dari dunia bulu tangkis pada 1988 silam, dia sempat menganggur karena pengetahuan yang dimilikinya ya cuma bulu tangkis. Tapi Liem Swie King gak mau nyerah dan pasrah begitu saja. Dia pun belajar mengelola usaha hotel milik mertuanya.

Hingga saat ini, dia pun sukses dengan bisnis hotel, griya pijat, dan spa. Mengapa bisnis pijat? Karena dia terinspirasi dengan terapi pijat semasa dia jadi atlet. King mengaku dia menabung honornya sebagai atlet untuk membuka usaha di kemudian hari.

Saat ini lokasi usaha spanya sudah sangat berkembang. Dia memiliki cabang di Grand Wijaya, Fatmawati, dan Kelapa Gading.

4. Ardy Wiranata

juara all england
Ardy Wiranata (Bola)

Nah kalau bung Ardy ini adalah jawara generasi 90-an. Pria kelahiran 1970 ini berhasil menjuarai All England pada 1991.

Selain menjadi juara di kejuaraan bergengsi tersebut, Ardy juga pernah menyabet medali perak di Barcelona, Spanyol. Dia dikalahkan oleh seorang pebulutangkis Indonesia juga, yaitu Alan Budi Kusuma.

Usai pensiun dari dunia bulu tangkis, Ardy nampaknya gak bisa move on dari olahraga yang satu ini. Ardy pun memutuskan untuk menjadi pelatih bulu tangkis di Kanada. Dan hingga saat ini, belum ada laporan terbaru mengenai kehidupan kariernya pascapensiun.

5. Hariyanto Arbi

juara all england
Hariyanto Arbi (Swa)

Pria kelahiran Kudus 1972 silam ini menjuarai All England pada 1993 dan 1994. Dia juga merupakan adik dari pebulutangkis kondang Eddy Hartono dan Hastomo.

Dalam kiprahnya di dunia bulu tangkis, dia kerap dijuluki “100 Watt Smash”. Dan usai gantung raket, pria yang akrab disapa Hari ini pun mengaku gak punya waktu untuk menjadi seorang pelatih.

Alih-alih, dia mendirikan usahanya yang bernama Flypower bersama Fung Permadi. Pada awalnya, Hari pernah merasakan masa sulit sebagai pengusaha. Tapi dia tetap menyikapi hal itu seperti saat masih jadi atlet, yakni tetap berusaha dan gak menyerah.

Selain menjual peralatan bulu tangkis, Flypower aktif menjadi sponsor kejuaraan-kejuaraan bulu tangkis di Indonesia. Sebagai sebuah brand karya anak bangsa, produk Flypower sudah mendunia. Kamu bisa menemukan produk mereka di  Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Korea, India, Australia, Jerman, Prancis, Swiss, Belanda, hingga Amerika Serikat.

6. Susi Susanti

juara all england
Susi Susanti (Viva)

Generasi jaman old pasti famiiar dengan perempuan ini. Perempuan yang menikahi Alan Budi Kusuma ini telah menjuarai All England kategori tunggal putri pada 1990, 1991, 1993, dan 1994.

Meski dirinya sudah pensiun dari dunia bulu tangkis belasan tahun yang lalu, nama Susi Susanti masih sering disebut banyak orang. Maklum saja, Susi menjadi bukti ketangguhan Indonesia dalam olahraga ini.

Usai meninggalkan dunia olahraga, sang juara All England ini mengembangkan bisnis bersama sang suami. Bisnis tersebut adalah bisnis pakaian olahraga bermerek Astec. Selain itu, Susi juga merintis bisnis sport massage center Fontana bersama Elizabeth Latief. Sama seperti Hari, Susi juga mengalami jatuh bangun dalam upaya merintis usahanya.

Lucunya, Susi justru melarang buah hatinya bermain bulu tangkis. Mengapa demikian? Karena menurutnya, kesuksesan seorang atlet gak bisa dibandingkan dengan kesuksesan karier lainnya. Oleh karena itu, dia berpendapat kalau lebih baik sukses di dunia akademik dan memilih karier yang lebih baik ketimbang jadi atlet.

Siapa juara All England favoritmu?

Itulah enam juara All England Indonesia beserta kisah kariernya semasa pensiun. Tentu saja, kisah-kisah mereka mengajari kita bahwa ketenaran gak bakal menjamin sebuah kemakmuran di hari tua.

Mereka semua sadar, keahliannya di bidang bulu tangkis gak bakal membuatnya tajir hingga tujuh turunan. Oleh karena itu, usai pensiun mereka ngajar, berbisnis, atau meniti karier.  

Semuanya mereka lakukan untuk bertahan hidup di masa depan. Untungnya saja mereka gak foya-foya kayak Mike Tyson yang akhirnya bangkrut.

[Baca: Kalau Sudah Kaya, Jangan Sampai Bangkrut Kayak 5 Selebriti Ini Ya!]

Penting juga tentunya buatmu untuk mengembangkan karier dan belajar hal baru demi masa depan. Gak ada yang tahu lho bakalan seperti apa dunia dalam 10 atau 20 tahun ke depan.

Ngomong-ngomong dari enam jawara tersebut, jagoan kamu yang mana nih?