5 Langkah yang Gak Boleh Dilupakan Saat Akan Menjual Rumah

Memiliki rumah sendiri adalah kebanggaan. Tapi ada kalanya kita mesti menjual rumah tersebut entah untuk alasan apa. Apakah itu untuk menutup utang, pindah dinas, atau memang mau melakukan investasi, menjual rumah gak bisa sembarangan. Bagaimanapun, rumah adalah aset yang sangat bernilai.

Harga ketika dibeli pastinya lebih rendah daripada sekarang. Kalau lokasi rumahnya aman dari bencana, tapi ya. Jika dulu rumah gak kebanjiran tapi sekarang hujan sedikit terbenam, ya wasalam.

Intinya, harus ada strategi ketika akan menjual rumah. Apalagi dengan kondisi rumah yang kini jadi kebanjiran. Kalau asal jual, siap-siap sakit hati rumahnya dihargai murah.

Gak mau kan, rumah hasil kerja keras ditawar sadis? Lima langkah yang gak boleh dilupakan saat akan menjual rumah berikut ini mungkin bisa menjadi panduan.

1. Lihat sekitar

Harga suatu rumah pastinya berkaitan erat dengan harga hunian lain yang satu lingkungan. Apalagi jika rumahnya dibangun oleh developer yang sama di satu kompleks dengan tipe yang serupa pula.

Misalnya mau jual rumah tipe 45/84 seharga Rp 500 juta. Lihat dulu harga pasaran untuk tipe yang sama di lingkungan yang sama juga.

saat akan menjual rumah

Jual sih jual, tapi cek dulu masbro lingkungan rumah, emang situ mau jual kemurahan? 

Kalau rata-rata rumah dihargai Rp 600 juta, rugi dong kalau kita jual Rp 500 juta. Selain itu, lihat juga Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) di kawasan rumah.

Nilai ini bisa ditanyakan ke kantor pertanahan setempat. NJOP menjadi salah satu patokan harga jual/beli rumah, termasuk dinilai bank ketika akan mengucurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

[Baca: Mau Jual Beli Rumah, Wajib Kenalan dengan PBB, NJOP dan BPHTB Kalau Ga Mau Beli Kucing dalam Karung]

2. Prospeknya gimana?

Seperti disebutkan sebelumnya, harga suatu rumah cenderung naik dari tahun ke tahun. Ini juga menjadi pertimbangan saat kita hendak menjual rumah.

Yakin mau jual rumah sekarang? Tahun depan proyek monorel yang lewat depan kompleks jadi, lho. Atau mungkin mau ada mal yang dibangun di dekat rumah 6 bulan lagi.

Pembangunan semacam itu bisa mendongkrak harga rumah karena lokasi menjadi strategis. Artinya, kita mesti update dengan berita terkini soal pembangunan.

Jika memang ada potensi harga rumah kita bakal terkerek oleh pembangunan, gak ada salahnya menunda penjualan. Jika butuh duit secepatnya, mungkin bisa pindah ke rumah orang tua/mertua dulu.

saat akan menjual rumah

Asyik juga ya keluar rumah langsung naik monorel hahaha gak segitu juga kelesss

Sementara itu, rumah disewakan sampai harganya naik. Jadi, bisa mendapat pemasukan baru dari sewa rumah.

Kalau belum cukup, mungkin bisa meminjam dana dulu ke bank dengan agunan sertifikat rumah. Tapi pastikan dulu bisa bayar lunas utang tersebut, ya.

[Baca: Aset-aset yang Bisa Jadi Jaminan untuk Pinjaman ke Bank]

3. Surat sudah lengkap?

Rumah dengan sertifikat hak milik (SHM) pasti harganya lebih mahal ketimbang yang hanya dilengkapi akta jual-beli (AJB) atau bahkan girik. Jadi, pastikan dulu rumah kita sudah ber-SHM.

Kemudian cek juga izin mendirikan bangunan (IMB) dan pajak, termasuk tagihan listrik, telepon, dan lain-lain. Pastikan semuanya beres, sehingga calon pembeli gak ngeper duluan saat tahu surat-surat belum lengkap.

Kebanyakan calon pembeli mau terima bersih rumah. Jadi, semua urusan berkas mesti beres jika kita mau rumah cepat laku.

4. Perlu renovasi?

Renovasi umumnya dilakukan buat menaikkan nilai rumah. Tapi awas, salah-salah renovasi malah bisa bikin nilai rumah merosot.

saat akan menjual rumah

Bang, hati-hati yak nanti jatuh bisa kacau dah!

Renovasi yang sekiranya perlu saja. Misalnya genteng bocor atau pagar jebol. Juga bersih-bersih. Renovasi tentunya butuh biaya, jadi harus bijaksana untuk melakukannya.

Kalau merasa gak perlu renovasi, ya gak usah melakukan. Bahkan ada lho, yang sampai meningkat rumah dengan harapan harganya jadi naik. Tapi, kenyataannya, biaya renovasinya lebih gede ketimbang selisih kenaikan alias justru rugi.

[Baca: 5 Cara Renovasi Rumah Murah Tanpa Utang]

5. Pasarkan sendiri atau pakai broker?

Broker alias perantara dalam penjualan rumah sangat berjasa. Namun gak semua orang membutuhkannya. Ada juga yang sukses jual rumah tanpa perantara.

Mereka sengaja jual rumah sendiri karena menghindari komisi buat si broker. Memang, menurut aturan, broker harus diberi komisi jika mampu menjualkan rumah.

Kalau kita berniat jual sendiri, gunakan semua cara yang ada. Pakai media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Pakai juga situs jual-beli kayak Kaskus. Juga situs khusus jual-beli rumah seperti Lamudi, Rumah123, dan lain-lain.

Yang pasti, sebisa mungkin hindari sikap anti terhadap broker. Soalnya jasa broker memang dibutuhkan, dan ada aturan resminya.

saat akan menjual rumah

Dijual, dijual, ayo bu, pak, dibeli dong rumahnya! 

Buat menyiasati komisi, kita bisa meminta harga lebih tinggi. Bisa juga negosiasi dengan pembeli untuk fifty-fifty alias sama-sama membayar fee ke broker dengan nilai sama.

[Baca: Pilih Mana, Jual Sendiri atau Pakai Jasa Broker Rumah?]

Rumah berbeda dengan kendaraan atau gadget, yang umumnya bakal merosot nilainya kalau sudah dipakai. Harga rumah second bahkan bisa melebihi harga barunya.

Kalau kita benar-benar butuh jual rumah, lakukan dengan bijak dan waspada. Jangan sampai niatnya mau dapat untung malah jadi buntung.

Image Credit:

  • http://lh4.ggpht.com/-kbvjhRyvHnA/VPsQ312VpLI/AAAAAAAAA-I/XOB1bdV1k_8/s1600/20150223_154519.jpg
  • http://www.indopos.co.id/wp-content/uploads/2014/04/a21.jpg
  • http://2.bp.blogspot.com/-nRkLhKI1iu4/T_BN7EOGWVI/AAAAAAAAAQY/7rvz-DYzKoU/s1600/rab-renovasi-rumah.jpg
  • http://4.bp.blogspot.com/-x8986Uxk2vg/VdpSm_d2LrI/AAAAAAAAAFY/oe13hIPzXNA/s1600/RUMAH-DIJUAL-GUMELAR.jpg