5 Kesalahan Sepele yang Bikin Pengusaha Kecil Susah Maju

Hal yang sepele bisa membahayakan kalau disepelekan. Apalagi kalau urusannya adalah duit.

Yang sering terjadi, misalnya, lupa menghidupkan lampu kendaraan roda dua di jalan. Hal yang sepele ini bisa berujung tilang dengan denda hingga Rp 500 ribu.

Kan gak lucu gara-gara kesalahan sepele begitu mesti merelakan duit ratusan ribu rupiah. Mending duit itu ditabung atau dipakai buat belanja bulanan to?

Kesalahan lain yang menjadi sebuah kelaziman adalah yang dilakukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Banyak di antara pengusaha kecil ini menganggap gampang perkara yang bisa mengorbankan usahanya.

Salah satu alasannya bisa jadi adalah mereka kurang paham akan hal-hal tersebut. Bila kamu berniat jadi pengusaha UMKM, atau justru sudah berjalan usahanya, coba evaluasi lagi. Bila gak cepat diatasi, taruhannya besar: usahamu susah maju, atau bahkan malah mundur.

Berikut ini contoh kesalahan para pengusaha kecil yang sering dilakukan:

1. Ogah ngurus izin

Indonesia adalah negeri hukum. Salah satu hukum itu mensyaratkan adanya izin kalau mau menjalankan usaha. Pemerintah gak menarik pungutan untuk izin itu kok, alias gratis.

Bila ada yang minta pungutan, laporkan saja ke atasannya atau sekalian ke KPK. Soal perizinan UMKM diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2014. Di situ diatur setidaknya empat manfaat buat pelaku UMKM, yaitu:

– Mendapat kepastian dan perlindungan usaha
– Ada pendampingan untuk pengembangan usaha
– Memperoleh kemudahan akses pembiayaan ke lembaga keuangan bank dan non-bank
– Mendapat fasilitas pemberdayaan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan/atau lembaga lainnya

Kurang enak apa coba?

Memang, ada satu kendala berupa ruwetnya perizinan. Eh, tapi itu kan dulu. Sekarang sudah ada pelayanan terpadu satu pintu. Sangat sepele. Bahkan ada mal pelayanan publik, antara lain di Bekasi.

Diharapkan reformasi birokrasi itu berjalan efektif. Pelaku UMKM cukup mengurus izin di tingkat kecamatan. Bila ada oknum main-main, rekam sebagai bukti untuk dilaporkan.

[Baca: Pengusaha UKM, Ini Ide Resolusi Buat 2018]

2. Anti-kredit buat ngembangin usaha

pengusaha-kecil
Jangan antipati dulu sama kredit. Ini bermanfaat banget buat ekspansi lho (smallbusinessfunding.com)

Pengusaha kecil harusnya gak perlu alergi terhadap kredit alias pinjaman, terutama buat mengembangkan usaha. Masalahnya, gak sedikit pengusaha kecil yang berpikir bahwa kredit hanyalah beban.

Memang, kredit adalah beban. Tapi gak mustahil beban itu diangkat. Justru kredit itu bisa membantumu mengembangkan usaha bila dikelola dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Kuncinya adalah merencanakan kredit dengan saksama. Hitung berapa kira-kira pinjaman yang diperlukan, termasuk tenor dan cicilan yang disanggupi berdasarkan penghasilan dari usaha tersebut.

Jangan sampai asal kredit cair. Terlebih bila ambil kredit di tempat yang tidak jelas, misalnya rentenir. Sebaiknya pilih bank atau lembaga kredibel lain yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sekarang pun sudah banyak pinjaman online langsung cair yang bisa diakses dengan modal hape dan Internet. Tapi pelajari dulu seluk-beluk kredit yang akan diambil sebelum membuat keputusan dan bandingkan mana yang paling ringan, terutama bunganya.

3. Malas mengamati pasar

Jadi pengusaha kecil bukan berarti bebas dari persaingan. Justru pengusaha UMKM rentan dimakan pengusaha kakap yang sudah mapan. Karena itulah buang godaan malas, khususnya malas mengamati pasar.

Pasar selalu berkembang. Bisnis milik pesaing bisa saja berkembang pesat tanpa kita sadari. Dari pengamatan pasar, kita bisa mengintip strategi bisnis yang dijalankan pengusaha sealiran.

Soal intip-mengintip ini hal biasa dalam bisnis, asal gak pakai kecurangan. Usaha kita pun bisa jadi banyak diintip pesaing tanpa disadari.

[Baca: Mau Bisnis Sukses? Ini Tips ‘Memata-matai’ Usaha Pesaing]

Jika rajin mengamati pasar, kita bisa langsung mengubah strategi saat menemukan kekeliruan. Dijamin usaha susah maju bila gak tahu situasi dan kondisi terkini pasar yang dilakoni.

Gak susah kok mengamati pasar. Bila punya toko kelontong, misalnya, lihat barang apa saja yang dijual pesaing dan harganya. Syukur-syukur bisa menandai barang yang paling laku dan cara pelayanannya. Hasil pengamatan itu lantas dijadikan acuan dalam penjualan dan harga, serta meningkatkan pelayanan.

4. Gak ngikutin perkembangan teknologi

pengusaha-kecil
Kalau buka warung, bukalah warung yang pintar. Bukan sekadar warung (techinasia)

Sama seperti pasar, teknologi juga berkembang. Lima tahun lalu mungkin gak ada yang mengira ada orang yang bisa jualan lewat Instagram Live atau Facebook Live. Kini, sudah banyak pengusaha kecil yang melakukannya.

Meski hanya menjalankan usaha kecil, perkembangan teknologi tetap mesti diikuti agar gak ketinggalan zaman. Lihat kasus Matahari, yang gerainya banyak tutup karena dinilai kalah bersaing dengan toko online.

Matahari akhirnya ikut terjun juga ke usaha online, meski penutupan banyak gerainya tak terhindarkan. Itu usaha besar dengan sokongan dana yang besar pula lho. Bila goyang, bisa segera disangga.

Lha kalau usaha kecil, tentunya risiko ambruk lebih besar. Itulah kenapa mengikuti perkembangan teknologi itu penting.

Kita bisa memanfaatkan Internet untuk memajukan usaha, misalnya dengan buka pesanan online dan bikin akun media sosial agar lebih dekat dengan pelanggan. Simpel.

5. Merasa kecil, pesimistis

pengusaha-kecil
Dari liliput jadi raksasa, itulah mimpi bisnis semua orang (metrotvnews)

Usaha boleh kecil, tapi semangat mesti besar. Apa gunanya bikin usaha tapi menjalankannya dengan pesimistis?

Kesalahan sepele ini jangan sampai dilakukan kalau kamu pengusaha kecil. Menanamkan sikap optimisme itu gampang kok.

Salah satunya adalah ikut dalam komunitas bisnis di daerah setempat. Dalam komunitas bisa diceritakan keluh-kesah dan masalah untuk dicarikan solusi secara bersama-sama.

Dalam komunitas juga bisa digelar seminar atau pelatihan untuk memajukan usaha. Intinya adalah diperlukan motivator untuk memompa optimisme.

Keberadaan orang terdekat juga bisa membantu mengusir pesimisme. Jika berani optimistis, niscaya kesuksesan bisa lebih mungkin direngkuh.

Gak ada usaha raksasa yang ujuk-ujuk lahir langsung besar. Pasti semuanya dimulai dari bisnis yang kecil. Apple yang terkenal dengan gadget canggihnya saja berawal dari usaha di garasi rumah.

Membuka usaha membutuhkan keberanian. Adapun untuk memajukan usaha, diperlukan kejelian agar tidak membuat kesalahan.

Sebagai pengusaha kecil, bisa saja bikin kesalahan sepele seperti yang disebutkan di atas. Sebelum semua terlambat, segeralah diperbaiki demi kemajuan usaha.

[Baca: Yakin Mau Jadi Pebisnis? Sudah Punya 5 Mental Ini Belum?]