5 Iming-iming Iklan Properti Online yang Harus Diwaspadai

Yang namanya iklan, pasti dibuat sebagus mungkin buat menarik orang. Tapi gak jarang iklan terdengar lebay alias berlebihan, dan bahkan malah menyesatkan.

 

Iklan seperti ini ada di mana pun. Tak terkecuali iklan properti online.

 

“Penyakit” kebanyakan orang saat melihat iklan adalah terpaku pada fasilitas yang ditawarkan. Padahal, di balik fasilitas itu ada syarat dan ketentuan yang kudu ditaati.

 

Gak jarang syarat dan ketentuan itu berat, sehingga kita gak jadi mendapat fasilitas yang dijanjikan. Itu baru satu contoh iming-iming iklan properti online yang harus diwaspadai. Ada sedikitnya empat contoh lain seputar iklan properti seperti ini. Apa saja?

 

 

1. Dapet hadiah bla bla bla…

Misalnya ada iklan promosi beli rumah gratis mobil atau tiket ke luar negeri. Dalam iklan itu gak dijelaskan soal gimana syarat dan ketentuan mendapatkan hadiah tersebut. Yang kita pahami hanya kalau beli rumah, otomatis dapat hadiah.

 

Ternyata, rumah yang dimaksud adalah yang tipenya paling mahal. Selain itu, ternyata hanya ada satu hadiah. Sedangkan pembeli ada 20 orang, yang artinya kita masih harus bersaing dengan 19 orang buat dapetin hadiah itu meski sudah beli rumah termahal.

 

 

2. Dekat dengan ini-itu, eh, ternyata

Salah satu hal pertama yang diprioritaskan pembeli adalah lokasi properti. Mereka mencari properti yang lokasinya strategis.

 

iklan properti online

Mau jualan rumah pakai iklan aja yang realistis. Gak usah bombastis dan lebay deh

 

 

Karena itu, penjual rumah maupun pengembang sering menonjolkan soal lokasi properti yang mereka jual. Misalnya rumah disebut dekat dengan jalan tol.

 

Selidik punya selidik, memang kompleks berada di tepi jalan tol. Tapi, ternyata, gerbang tolnya masih 10 kilometer di depan.

 

Itu belum termasuk macetnya lalu lintas menuju ke gerbang itu. Apa mau jebol tembok tol buat masuk?

 

Karena itu, sebelum memutuskan membeli, sebaiknya survei dulu tempatnya. Pastikan bahwa iklannya betul. Bukan betul-betul ngawur.

 

[Baca: 5 Lokasi Investasi Tanah yang Patut Dilirik dan Dipelajari]

 

 

3. DP bisa dicicil..ehm…

DP alias down payment memang sering jadi momok buat calon pembeli rumah via kredit pemilikan rumah (KPR). Untung saja uang muka pembayaran ini sudah diturunkan per 2015. Tapi gak tertutup kemungkinan DP naik lagi.

 

DP sudah ditetapkan sebesar 20% dari harga rumah. Jadi, kalau rumah harganya Rp 300 juta, DP-nya hanya Rp 60 juta. Sebelumnya, DP ditetapkan 30%.

 

[Baca: Uang Muka KPR Turun Nih. Apakah Itu Tandanya Makin Gampang Ajukan Kredit ke Bank?]

 

Tapi duit persekot itu belum termasuk biaya-biaya seperti notaris, KPR, asuransi, dan lain-lain. Jadi, DP dianggap sebagai beban.

 

Mengetahui hal ini, pengembang menawarkan promo DP 10%, DP bisa dicicil, atau bahkan tanpa DP. Tapi, mereka gak ngasih tahu syaratnya di iklan.

 

Biasanya, kekurangan DP akan ditambahkan ke cicilan. Jadi, tenor bakal lebih panjang. Yang artinya, kita lebih lama melunasi cicilan dan duit yang kita keluarkan bisa lebih besar karena itu belum termasuk bunga.

 

[Baca: Yang Wajib Diketahui tentang Kredit Pemilikan Rumah (KPR)]

 

 

iklan properti online

Desain rumah di iklan pasti tampak bagus. Kudu cek dan ricek ke lokasi lagi

 

 

4. Hanya Rp 300 jutaan, masak?

Pengembang sering menyebutkan harga propertinya dengan akhiran –an. Misalnya Rp 300 jutaan.

 

Tapi, setelah kita minta brosurnya, eh, harga termurah Rp 399 juta. Bener sih Rp 300 jutaan. Tapi itu sama saja dengan Rp 400 juta!

 

Begitu juga soal cicilan. Pakai –an biar kelihatan ringan. Jadi, jangan ngiler dulu melihat nominal yang disodorkan, ya.

 

 

5. Harga murah buat 10 pembeli pertama, tapi…

Dalam bisnis properti, ada yang namanya nomor urut pembelian (NUP). Skema NUP biasanya diterapkan pengembang yang menawarkan rumah terbatas.

 

Mekanismenya, pembeli awal mendapat harga lebih murah ketimbang yang belakangan. Biasanya 10 pembeli pertama yang mendapat fasilitas ini.

 

Masalahnya, kadang konsumen gak diberi tahu sudah urutan ke berapa dia. Jika pun sudah di luar daftar penerima fasilitas, masih dibujuk buat beli.

 

Rayuan mautnya, “Siapa tahu pembeli di atas Bapak/Ibu batal, jadi bisa naik ke posisi di atas.” Iya kalau batal. Kalau gak?

 

iklan properti online

Hhhmm kalau iming-imingnya dapat istri kayak gimana ya?

 

 

Itulah kenapa kita mesti waspada terhadap iming-iming iklan properti. Empat poin plus satu poin soal hadiah yang disebutkan sebelumnya itu sering terjadi.

 

Kita sebagai konsumen wajib teliti biar gak dikadali. Kalau hanya keblinger iklan begitu mungkin gak begitu merugikan.

 

Gimana kalau pengembangnya nakal? Pasang iklan, minta bayaran, eh kabur. Makanya, prinsip kehati-hatian kudu diutamakan dalam transaksi keuangan apa pun, apalagi properti.

 

[Baca: Nggak Perlu Takut Investasi Properti, Ini Cara Menghadapi Pengembang Nakal]

 

 

 

Image credit:

  • http://i52.tinypic.com/10fuouw.png
  • http://gambar-rumah.com/attachments/kota-lain/555862d1374418950-perumahan-dijual-di-widuri-pemalang-kota-61998_364987666917935_1801900936_n.jpg
  • http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2016/02/02/659495/670×335/beli-rumah-di-solo-dapat-istri-beli-apartemen-dapat-suami.jpg