41 Toko Ritel di Palu dan Donggala Dijarah

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyayangkan sikap Menteri Dalam Negeri yang mengizinkan masyarakat mengambil barang di toko ritel.

Pengambilan barang di toko ritel di Palu dan Donggala tanpa koordinasi lebih dahulu dengan pemilik usaha disayangkan oleh Aprindo.

“Keputusan ini tidak mendidik, pemerintah seolah-olah memberikan kesempatan bagi masyarakat bertindak diluar tata krama,” ujar Roy Senin (1/10/2018).

Menurutnya, sebagai pelaku usaha toko ritel di Indonesia, Aprindo telah memberikan kontribusi bagi kemajuan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Aprindo juga selalu hadir dalam memberikan bantuan sembako kepada masyarakat yang tertimpa bencana serupa di Lombok, Jogja, Padang, Aceh, dan lain-lain.

Update terakhir sampai saat ini telah terjadi pengambilan barang oleh masyarakat di 40 gerai Alfamart dan 1 gerai Hypermart di Kota Palu.

Aprindo Prihatin Tsunami Palu dan Donggala

ilustrasi toko ritel

Meski begitu Aprindo menyatakan prihatin atas peristiwa gempa bumi dan tsunami di Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Pihaknya menyampaikan rasa duka-cita mendalam kepada keluarga korban yang kehilangan anggota keluarganya.

Dampak peristiwa ini mengakibatkan kerugaian materiil, dan non materiil yang relatif besar.

Aprindo mencatat kerugian sekitar Rp 450 miliar yang dialami oleh anggota mereka yang memiliki gerai toko ritel modern seperti Ramayana, Matahari, Hypermart, Alfamidi di Poso, Palu, Donggala Sulawesi Tenggara.

Adapun kerugian ini meliputi kerusakan bangunan, display barang dan stok di gudang serta 5 orang korban jiwa dari penjaga toko akibat gempa dan tsunami.

Ketua Umum DPP Aprindo Roy N. Mandey mengatakan, sampai saat ini gerai toko ritel Aprindo di Palu dan Donggala masih belum beroperasi. Hal ini dikarenakan masih dalam proses konsolidasi dan pendataan pasca gempa dan tsunami.