4 Strategi Pintar dan Ampuh untuk Komplain Pelayanan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya

Siapa yang ga kesel melihat komplain pelayanan bank mangkrak berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dihubungi sekali, dibilang komplain sedang diproses. Dihubungi lagi, pernyataan orang bank masih sama: masih diproses.

 

Lamanya tindak lanjut terhadap komplain ini kadang bikin kita gak sabar. Tapi marah pun gak ada gunanya. Malah bisa-bisa kita kena stroke gara-gara tekanan darah naik, sementara komplain masih belum selesai.

 

Ada strategi khusus untuk menghadapai masalah komplain pelayanan bank dan lembaga keuangan lain gak digubris. Daripada ngomel-ngomel, mending kita lakukan sejumlah langkah berikut ini:

 

1. Melapor ke OJK

OJK alias Otoritas Jasa Keuangan telah meluncurkan konsep Trackable dan Traceable untuk menyelesaikan perselisihan antara nasabah dan bank atau lembaga keuangan lain. OJK adalah lembaga negara yang berwenang mengawasi dan menindak lembaga keuangan di Indonesia.

 

Trackable dan Traceable adalah konsep layanan OJK yang memungkinkan masyarakat mengadukan masalah mereka dengan lembaga keuangan ke OJK lalu melacak sampai di mana perkembangan penyelesaian masalah itu.

 

Dalam konsep ini, ada lima cara yang bisa ditempuh, yakni:

 

1.) Menulis surat kepada Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen. Alamatnya Menara Radius Prawiro Lantai 2, Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jl. M.H. Thamrin No.2, Jakarta Pusat.

 

kantor komisioner OJK di kompleks perkantoran BI
Kalau mau komplain ke OJK gak perlu datang langsung ke kantornya, apalagi bawa massa pasukan nasi bungkus

 

 

2.) Menghubungi via telepon ke (021)500655. Line telepon ini dibuka pada Senin-Jumat setiap pukul 08.00-17.00 WIB.

 

3.) Mengirim laporan via faksimili dengan nomor (021)3866032.

 

4.) Mengirim e-mail ke [email protected]

 

5.) Melalui form pengaduan online yang disediakan OJK di situs Sikapi Uangmu.

 

2. Mengadu ke YLKI

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) siap membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi konsumen. YLKI adalah organisasi non-pemerintah yang khusus menangani masalah-masalah konsumen di Indonesia. Sama seperti OJK, ada beberapa cara buat mengadukan masalah konsumen lewat YLKI.

 

1.) Menelepon (021)  7981858. Tapi pengaduan lewat telepon hanya akan mendapat nasihat atau saran dari YLKI. Kalau menginginkan tindak lanjut, kita harus mengirim surat pengaduan resmi ke YLKI.

 

2.) Menulis surat pengaduan resmi yang memuat kronologi kejadian ke alamat Jl Pancoran Barat VI No. 1 Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, 12780,. Di dalam surat  itu harus ada:

  • Identitas dan alamat lengkap konsumen
  • Barang bukti
  • Fotokopi dokumen pelengkap lain (misalnya surat perjanjian)

 

kantor YLKI di Pancoran
Polisi aja butuh barang bukti buat menjerat tersangka. Kalau tanpa barang bukti, bisa pusing pala Barbie.. komplain gak diproses

 

 

Dalam proses pengaduan lewat surat ini ada beberapa langkah yang harus dilalui:
a.) YLKI akan melihat surat yang masuk. Tiap surat pengaduan, YLKI memberi label yang dipilih-pilih dalam tiga kategori, yaitu:

  • Untuk ditindaklanjuti
  • Bukan sengketa konsumen
  • Bukan skala prioritas

 

b.) Jika termasuk kategori untuk ditindaklanjuti, YLKI akan melakukan seleksi administrasi.

 

c.) Setelah surat dinyatakan lolos seleksi administrasi, YLKI akan berkirim surat ke pihak yang diadukan untuk meminta konfirmasi kebenaran kasus pengaduan. Dalam proses ini kadang sudah tercapai solusi yang disepakati kedua pihak.

 

d.) Kalau dalam proses tersebut tak terjadi kesepakatan, YLKI akan mencari mediator yang menguasai permasalahan yang diadukan.

 

e.) Kedua pihak yang bersengketa akan dipertemukan dan diminta menjelaskan versi masing-masing. Mediator akan membantu menengahi hingga terjadi kesepakatan damai.

 

3. Menulis surat pembaca

Jika sudah mengadu ke OJK dan YLKI tapi tak kunjung mendapat penyelesaian, kita bisa juga menulis surat pembaca di media massa. Pilih media yang berlevel nasional agar terjangkau lebih banyak orang.

 

Tapi harus diingat bahwa surat itu harus berfokus pada bagaimana menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan tidak secara sengaja dibuat untuk menjatuhkan nama lembaga keuangan yang sedang bermasalah dengan kita. Sebab risikonya kita bisa dituntut karena mencemarkan nama baik lembaga itu.

 

Dear Diary
Nulis surat pembaca gak perlu panjang-panjang, nanti jatuhnya malah kayak curhat

 

 

Pihak yang diadukan biasanya akan membalas surat tersebut di media yang sama. Jikapun cara ini gak berhasil, paling tidak kita sudah memberi tahu orang lain agar tidak bernasib serupa dengan kita lewat surat itu.

 

4. Bersabar

Terakhir, kita harus bersabar dulu menunggu proses pengaduan ke lembaga keuangan. Bank dan lembaga keuangan lain pastinya punya prosedur untuk menangani komplain. Biasanya penanganan komplain di bank bisa sampai satu bulan, tergantung jenis komplainnya.

 

Jika komplain kita memang memakan waktu cukup lama di bank, baru laporkan ke lembaga-lembaga tadi. Kalau laporan di lembaga itu juga lama prosesnya, setidaknya kita sudah berusaha. Daripada diam saja pasrah menerima pelanggaran hak.

 

Mungkin saja pengaduan kita ada di urutan ke 100 dari 1.000 pengaduan. Sebab bukan tak mungkin ada banyak pengaduan yang ditangani lembaga-lembaga tersebut dalam satu waktu.

 

orang gak sabaran, maunya cepaaattttt dan VIP
Yang sabar, ya. Kayak waktu kita sabar nyari pacar gak dapet-dapet itu..

 


Toh, pengaduan ini bisa menjadi pelajaran bagi diri sendiri dan orang lain. Terutama buat menyehatkan industri keuangan. Dengan adanya komplain pelayanan bank dan lembaga keuangan lain, diharapkan kinerja lembaga-lembaga tersebut bisa meningkat. Amin!

 

 

 

Image credit:

  • http://www.aktual.co/images/content/2014/02/24/27bccc8a4dc6229f8fc4a27123d169dc140232_a.jpg
  • http://images.hukumonline.com/frontend/lt4f8ee67dda614/lt4f8ef06b086cf.jpg
  • http://lowvelder.co.za/wp-content/uploads/sites/44/2014/06/deardiary1.jpg
  • http://cdn.klimg.com/merdeka.com/resized/670×670/i/w/news/2013/10/11/262307/996×498/orang-kaya-cenderung-tak-sabar-saat-mengantri.jpg