4 Alasan Kenapa Mematikan TV Bisa Menghemat Pengeluaran

Kampanye “matikan televisimu” sudah lama didengungkan. Bahkan sampai ada bukunya. Tujuan utamanya adalah menyadarkan masyarakat bahwa terlalu banyak menonton TV itu banyak mudaratnya.

Di antaranya bikin kondisi psikologis terganggu karena sering nonton film dengan tema kekerasan. Apalagi buat anak-anak.

Tapi sepertinya kampanye ini belum kena betul di masyarakat. Padahal ada salah satu alasan penting lain untuk mematikan televisi, yaitu untuk hemat pengeluaran.

Alasan yang satu ini pasti dirasa lebih perlu ketimbang sekadar “mengganggu kejiwaan” atau “pikiran jadi terkontrol”. Sebab, dampaknya bisa langsung dirasakan.

Berikut ini 4 alasan matikan TV bisa hemat pengeluaran kita:

1. Hemat listrik

Jelas, TV yang mati bisa menghemat tagihan listrik. Tapi berapakah penghematannya? Kita ambil contoh TV LED 43 inci dengan konsumsi listrik 150 watt. Umpamanya tarif dasar listrik (TDL) Rp 1.400 per kwh dengan lama nyala TV 10 jam per hari.

Rumus tagihan listrik per bulan =  pemakaian kwh* x TDL x 1 bulan

*pemakaian kwh (kilowatt hour) = [jumlah alat x konsumsi listrik (watt) x lama pemakaian (jam atau hour)] : 1.000

Pemakaian kwh TV = [1 x 150 w x 10] : 1.000 = 1,5 watt

Tagihan listrik TV per jam= 1,5 w x Rp 1.400 = Rp 2.100

Tagihan listrik TV per bulan= 1,5 w x Rp 1.400 x 30 hari= Rp 63.000

Coba bila lama nyala hanya 5 jam. Tagihan akan menjadi:

Pemakaian kwh TV = [1 x 150 w x 5] : 1.000 = 0,75 watt

Tagihan listrik TV per jam= 0,75 w x Rp 1.400 = Rp 1.050

Tagihan listrik TV per bulan= 1,5 w x Rp 1.400 x 30 hari= Rp 31.500

Lumayan kan bisa ngirit separuhnya? Makin banyak matikan TV, makin banyak pengeluaran yang bisa dihemat.

2. Gak tergoda iklan

hemat-pengeluaran
Hayoo, siapa yang suka kemakan iklan di televisi? (merdeka.com)

Tiada tayangan televisi tanpa iklan. Makin lama nonton TV, makin banyak terpapar iklan. Artinya, godaan untuk membeli apa yang diiklankan makin besar.

Kalau gak kuat mental, bisa merogoh kocek untuk barang yang mestinya tak dibeli. Iklan ini terutama yang berlangsung setengah atau sejam berturut-turut.

Biasanya iklan kesehatan atau alat masak dengan presentasi langsung. Presenter bilang barang terbatas dan diskon, jadi membuat penonton terdorong untuk beli saat itu juga.

Apalagi ada layanan pembelian via telepon dan WhatsApp. Jadilah godaan itu kian tak tertahankan.

3. Bisa lebih produktif

hemat-pengeluaran
Coba bikin survei kecil-kecilan, apa betul yang sering nonton TV itu perutnya buncit (globalpublicsquare.blogs.cnn.com)

Menonton TV identik dengan budaya konsumtif dan bermalas-malasan. Karena itulah frekuensi nonton TV yang terlalu sering kerap diidentikkan dengan obesitas, terutama pada anak.

Padahal uang tak bisa datang sendiri ketika kita tenggelam dalam kemalasan. Karena itulah disarankan mematikan TV agar bisa hemat pengeluaran.

Selain itu, waktu yang ada bisa dimanfaatkan secara lebih baik. Misalnya untuk kerja sampingan demi menambah pundi-pundi rezeki.

Dari biasanya 8 jam nonton TV per hari, coba kurangi 2 jam saja. Manfaatkan 2 jam itu untuk menulis atau membuat karya apa pun untuk dijual. Gak cuma hemat pengeluaran, mematikan TV bisa menambah pos anggaran baru untuk kebutuhan lainnya.

4. Irit paket TV kabel

hemat-pengeluaran
Hiburan itu perlu buat hidup, tapi kalau kebanyakan bisa overdosis (lenteraemas.com)

Ketika lebih sering mematikan TV, tak ada gunanya langganan TV kabel dengan paket paling komplet alias termahal. Bahkan mungkin tak perlu lagi langganan. Makin hemat pengeluaran deh!

Dengan demikian, pengeluaran bisa lebih dihemat. Umpamanya sebelumnya langganan First Media yang sebulan Rp 500.000. Karena jarang nonton TV, bisa di-downgrade jadi yang paket Rp 300.000.

Toh, sekarang sudah zamannya siaran digital. Sudah banyak stasiun TV yang punya saluran digital, sehingga gambar lebih jernih layaknya siaran TV kabel.

Tinggal dilihat saja TV kita sudah ada fitur DVB-T2 atau belum. Jika belum, bisa beli set top box, paling Rp 200 ribuan.

Atau mau ganti TV baru, itu lebih baik. Tak perlu tambahan alat lagi. Lagi pula, makin ke sini TV sudah makin murah kok dengan fitur yang lengkap.

Harga TV LG 32 inci yang sudah support siaran digital, misalnya, hanya Rp 2,5-3 jutaan. Mau yang lebih murah lagi ada, merek Tiongkok seperti Changhong atau Coocaa. Secara merek mungkin kurang oke, tapi fiturnya kurang-lebih sama dengan yang merek tenar.

TV adalah sarana hiburan dan informasi. Tak ada salahnya menghibur diri dengan menonton TV, apalagi menambah pengetahuan.

Tapi tanpa disadari, TV bisa membuat kita terhipnotis untuk terus melek dan akhirnya merogoh kocek. Yuk, berhemat dengan bijak menonton TV.