2019, 100 Emiten Siap Melantai di Bursa Efek Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan sepanjang tahun 2019 akan ada 75 hingga 100 emiten baru yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, rasa optimisme terus digulirkan pemerintah dengan harapan kinerja ekonomi termasuk peningkatan emiten baru terus alami perkembangan positif.

“Optimisme ini mendorong pasar modal lebih tinggi. Kami perkirakan lebih dari 75 hingga 100 emiten,” kata Wimboh dalam acara Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 di Jakarta.

Wimboh mengatakan, dengan besaran emiten baru diatas 50, proyeksi nilai emisinya mencapai Rp 200 triliun hingga Rp 250 triliun.

Adapun proyeksi 2019 ini mengacu kepada kinerja sepanjang 2018 lalu, dimana jumlah emiten pada tahun lalu mencapai 62 emiten baru.

Sedangkan nilai penghimpunan dana mencapai Rp 166 triliun. Dan dari sisi total dana kelola investasi mencapai Rp 746 triliun atau meningkat 8,7 persen dari 2017.

Selain itu, dari sisi eksternal, kenaikan bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve diperkirakan lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai empat kali.

“Kami melihat capital inflow (aliran modal masuk) kembali lagi ke emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Wimboh.

Kondisi Pasar Modal 2019 Lebih Baik

OJK sendiri memprediksi penghimpunan dana melalui pasar modal pada tahun 2019 mendatang akan mengalami pertumbuhan 10 hingga 12 persen. Hal ini mengacu pada target dan perkiraan realisasi tahun 2018.

Maka pendanaan melalui pasar modal tahun 2019 tersebut bisa mencapai Rp 200 triliun. Adapun proyeksi OJK tersebut memperhatikan kondisi ekonomi dalam negeri secara makro dan mikro.

“Kondisi pasar modal tahun 2019 kemungkinan situasinya masih tidak terlalu jauh berbeda dengan tahun ini. Kondisi dan analisa makro mikro kita masih berkisar 10-12 persen akan tumbuh fund rising dari posisi 2018.” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen di Jakarta.

 

Kemudian, adanya penerapan penyelesaian transaksi yang sebelumnya selesai dalam tiga hari, dipercepat menjadi dua hari diharapkan akan semakin mendukung kinerja pasar modal. Percepatan ini diharapkan meningkatkan volume hingga nilai transaksi.

Pada saat ini, nilai transaksi harian di pasar modal mengalami peningkatan sekitar 11 persen menjadi Rp 8,45 triliun per hari. Nilai tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya Rp 7,6 triliun.

Sementara itu, Wimboh memprediksi tekanan terhadap pasar modal pada tahun 2019 akan lebih ringan dibandingkan tahun ini. Sebab, pemerintah Indonesia dan pemerintah negara-negara berkembang (emerging market) telah melakukan antisipasi terkait dampak normalisasi kebijakan moneter di AS.

Kemudian, meredanya ketegangan perang dagang juga akan berdampak positif pada kinerja pasar modal di Indonesia.

Editor: Ayyi Achmad Hidayah